Gubernur Jateng Pimpin Penanaman Mangrove di Pantai Tirang untuk Cegah Abrasi

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 11:10 WIB
Gubernur Jateng Pimpin Penanaman Mangrove di Pantai Tirang untuk Cegah Abrasi

Matahari baru saja naik sepenggalah, membasuh langit pagi dengan warna keemasan yang hangat, ketika debur ombak di Pantai Tirang, Kota Semarang, berkejaran menghempas pasir. Di tengah harmoni alam yang tenang itu, riuh rendah langkah kaki mulai terdengar. Puluhan orang berkumpul membawa asa baru, bersiap menanam bibit-bibit cemara laut dan mangrove demi menjaga pantai dari amukan abrasi. Hari itu, mereka tidak sekadar menanam pohon, melainkan sedang merajut sabuk hijau untuk masa depan pesisir yang lebih abadi.

Peristiwa itu berlangsung pada Sabtu, 6 Juni 2026, dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Mereka yang hadir berasal dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, komunitas lingkungan, pelajar, mahasiswa, hingga warga sekitar. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Dalam kesempatan itu, Luthfi menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukanlah tanggung jawab pemerintah semata. Menurutnya, persoalan lingkungan harus dipandang sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat. Ia menjelaskan, kegiatan penanaman pohon di kawasan pesisir merupakan bagian dari program Gerakan Mageri Segoro, sebuah upaya melindungi laut dan kawasan pesisir dari ancaman rob serta abrasi.

“Mageri Segoro itu segoro yang dikasih pager. Artinya, laut kita itu harus kita pagari,” kata Luthfi dalam keterangannya.

Ia mencontohkan sejumlah kawasan pantai di Pantura yang mengalami tekanan serius akibat abrasi. Karena itu, penanaman mangrove dan tanaman pesisir harus dipandang sebagai upaya jangka panjang untuk menjaga garis pantai. Namun, Luthfi mengingatkan bahwa menanam saja tidak cukup. Tanaman yang sudah ditanam harus dirawat agar tidak mati dan benar-benar memberikan manfaat bagi kawasan pesisir. Ia meminta dinas terkait, penggiat lingkungan, hingga kawasan industri ikut menjaga tanaman yang sudah ditanam. Terlebih, penanaman dilakukan menjelang musim kemarau sehingga perlu pemantauan rutin.

“Tiga hari sekali minimal dilakukan pengecekan,” ungkapnya.

Di sisi lain, Luthfi juga menyoroti persoalan pengambilan air tanah. Ia meminta evaluasi kebijakan pengambilan air tanah dilakukan lebih rutin sebagai langkah mencegah penurunan tanah, khususnya di wilayah pesisir. Menurutnya, masyarakat harus diedukasi agar tidak sembarangan mengambil air tanah. Pemerintah daerah, lanjutnya, perlu memperkuat layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) melalui BUMD. Selain itu, teknologi desalinasi juga didorong untuk kawasan pesisir, terutama bagi masyarakat nelayan.

Pada kesempatan yang sama, Luthfi menegaskan bahwa sampah menjadi bagian penting dari persoalan lingkungan. Ia menyebut, sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto, Indonesia menargetkan zero waste pada 2029, termasuk di seluruh daerah. Pemprov Jateng, kata Luthfi, telah memetakan persoalan sampah di seluruh kabupaten dan kota. Daerah dengan timbulan sampah sekitar 1.000 ton per hari diarahkan menggunakan skema aglomerasi atau regional. Skema itu antara lain disiapkan untuk kawasan Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya. Sementara daerah dengan timbulan sampah di bawah 1.000 ton per hari diarahkan menggunakan refuse-derived fuel (RDF), yang dapat dimanfaatkan oleh pabrik semen.

Sementara itu, seorang peserta dari Saka Kalpataru, Aisyah, menyampaikan harapannya. Ia berharap penanaman mangrove dapat menjaga keberlanjutan kawasan pesisir Pantai Tirang.

“Harapan saya, semoga Pantai Tirang ini jangan sampai terkikis oleh air laut,” kata Aisyah.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar