Kekalahan Barcelona dari Atletico Madrid dengan skor 0-2 dini hari tadi jelas pukulan telak. Laga leg pertama perempat final Liga Champions itu berakhir suram untuk Blaugrana, dan sorotan justru tertuju pada satu wajah: Lamine Yamal. Ekspresi hancur sang bintang muda usai pertandingan langsung menyebar bak virus, mencuri perhatian lebih dari sekadar hasil akhir pertandingan.
Dominasi statistik ternyata tak berarti apa-apa. Barcelona melepaskan 18 tembakan, tujuh di antaranya mengarah ke gawang, tapi semuanya gagal berbuah gol. Efektivitas jadi masalah yang mahal harganya malam itu. Di sisi lain, Atletico Madrid tampil efisien dan tajam, memanfaatkan peluang yang mereka dapat dengan sempurna.
Di tengah kegagalan kolektif itu, Yamal justru bersinar. Pemain 18 tahun itu adalah penggerak paling berbahaya. Tiga peluang tercipta dari kakinya, ditambah delapan dribel berhasil ia selesaikan. Tapi kontribusi impresifnya itu terasa sia-sia. Beberapa kali selama laga, raut frustrasi sudah terlihat jelas di wajahnya.
Dan saat peluit akhir benar-benar menggema, kamera tak perlu lama mencari. Yamal terpaku di lapangan, wajahnya menyiratkan kekecewaan yang dalam. Dia tampak benar-benar terpukul, semangatnya seperti menguap begitu saja.
Beberapa rekan setim bergegas menghampiri, berusaha menghiburnya. Yang menarik, bahkan sejumlah pemain Atletico Madrid pun mendekat, memberikan tepukan di pundaknya. Sebuah gestur sportivitas yang hangat di tengah panasnya rivalitas.
Artikel Terkait
Heineken Gelar Kampanye Nobar Liga Champions, Janjikan Perjalanan ke Final di Budapest
Timnas Futsal Indonesia Juara Grup B, Hadapi Vietnam di Semifinal Piala AFF 2026
Goh Liu Ying Beralih Peran: Dari Atlet Perak Olimpiade Jadi Pelatih dan Pengusaha
Bautista: MotoGP 2026 Lebih Sengit, Marquez Belum 100% Fit