Selain Ragnar, ada Jay Idzes yang jadi pemain termahal di tim. Bek tengah yang konsisten di Serie A bersama Sassuolo itu terus naik daun. Di lini lain, Kevin Diks yang main di Bundesliga juga menyumbang angka besar. Kombinasi pertahanan solid dan serangan tajam jadi modal utama Indonesia.
Namun begitu, jangan remehkan Saint Kitts dan Nevis. Mereka punya ancaman yang layak diwaspadai.
Tyrese Shade, misalnya, punya nilai pasar tertinggi di tim mereka. Lalu ada pengalaman Romaine Sawyers yang pernah merasakan atmosfer kompetisi Inggris. Dia bisa jadi pengatur tempo yang bikin permainan mereka nggak mudah dipatahkan.
Jelas, jurang nilai pasar itu menggambarkan kedalaman skuad dan kualitas individu. Tapi sepak bola tuh nggak pernah hitam putih. Mental, strategi juru taktik, dan kondisi fisik di hari-H tetap jadi penentu utama. Apalagi di panggung internasional seperti FIFA Series, kejutan selalu mengintai.
Timnas Indonesia sendiri datang dengan kepercayaan diri tinggi. Perpaduan antara darah muda dan senioritas terlihat pas. Ditambah lagi, dukungan suporter di kandang sendiri pasti bakal jadi suntikan energi ekstra.
Jadi ya, secara logika Indonesia memang lebih diunggulkan. Tapi ini semua baru teori. Pembuktian sesungguhnya hanya akan terjadi di lapangan rumput GBK nanti. Angka-angka fantastis itu harus diubah jadi gol dan kemenangan.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Podium di MotoGP
Eredivisie Tegaskan Tak Akan Ulangi Pertandingan Meski Status Pemain Dipertanyakan
Kiandra Ramadhipa Siap Berlaga di FIM Moto3 Junior World Championship 2026
Enam Tiket Terakhir Piala Dunia 2026 Diperebutkan di Playoff Semifinal