Faktanya, Aprilia kini telah berubah jadi rival yang sangat serius. Peningkatan mereka sejak pertengahan musim lalu terasa begitu signifikan. Sementara itu, Ducati justru menunjukkan tren sebaliknya. Francesco Bagnaia, juara dunia mereka, tampak kesulitan untuk konsisten berada di barisan depan. Masalahnya jadi makin rumit setelah kepergian tim Pramac ke Yamaha, yang otomatis mengurangi jumlah motor Ducati di grid. Kekuatan kolektif mereka pun ikut tergerus.
Belum lagi tantangan teknis musim ini. Ban baru Michelin dengan konstruksi belakang yang lebih keras, plus sirkuit baru seperti Goiania, rupanya menjadi teka-teki yang belum sepenuhnya terpecahkan oleh tim berjaket merah itu.
Tardozzi mengungkapkan bahwa tim setidaknya sudah mengidentifikasi sumber masalah. Gigi Dall’Igna, sang general manager, dikatakan terus bekerja tanpa henti untuk mengejar ketertinggalan.
Dia menegaskan Ducati harus segera membuktikan diri bisa bangkit. Persaingan diprediksi akan semakin sengit di seri-seri mendatang.
Nasib malah juga menimpa Bagnaia. Pembalap nomor satu itu bahkan gagal finis di Brasil setelah terjatuh. Tardozzi menilai tim harus memberinya motor yang bisa membangkitkan kepercayaan dirinya, meski juga mengakui ada kesalahan yang dibuat Bagnaia sendiri di sesi kualifikasi. Semuanya kini beradu cepat. Ducati jelas sedang tak dalam situasi nyaman, dan waktu untuk berbenah tak banyak.
Artikel Terkait
Eredivisie Tegaskan Tak Akan Ulangi Pertandingan Meski Status Pemain Dipertanyakan
Kiandra Ramadhipa Siap Berlaga di FIM Moto3 Junior World Championship 2026
Enam Tiket Terakhir Piala Dunia 2026 Diperebutkan di Playoff Semifinal
Italia Hadapi Tekanan Berat di Laga Penentu Kualifikasi Piala Dunia Lawan Irlandia Utara