Musim 2022/2023, catatannya turun drastis: cuma tiga gol dari 17 laga. Memang ada perbaikan di musim berikutnya dengan 10 gol, tapi kepercayaan dirasakan sudah berkurang. Akhirnya, PSIS melepasnya. Keputusan yang waktu itu terlihat masuk akal.
Namun begitu, konteksnya sekarang sudah berubah total.
Ketika Fortes bebas transfer dan PSIS butuh penyelesaian masalah di depan gawang lawan, peluang untuk reuni itu sebenarnya terbentang. Bukan sebuah taruhan liar, melainkan opsi yang sudah punya track record di sini.
Tapi ya sudahlah. Sepak bola tidak mengenal kata "seandainya".
Kini, Fortes sudah menemukan rumah barunya di Vietnam, bersama Song Lam Nghe An FC. Babak baru untuknya. Sementara PSIS? Mereka harus berjuang dengan pilihan yang ada, tanpa striker yang dulu pernah jadi andalan itu.
Penyesalan, kalau pun ada, tidak akan menambah poin di klasemen. Ia cuma jadi cerita di belakang layar: tentang bagaimana sebuah keputusan bisa beresonansi jauh lebih lama dari yang kita kira.
Di Liga 2, setiap pertandingan seperti pertaruhan. Setiap peluang harus dimaksimalkan. Dan setiap pilihan, sekecil apa pun, punya bobot yang menentukan.
Mungkin PSIS tidak salah waktu melepas Fortes dulu.
Tapi dalam dunia sepak bola, yang benar kemarin, belum tentu jadi jawaban untuk hari ini.
Artikel Terkait
Marco Bezzecchi Raih Kemenangan Dominan di MotoGP Brasil 2026
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Podium Perdana Indonesia di Moto3 Brasil
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Naik Podium MotoGP
Mario Suryo Aji Akhirnya Kantongi Poin Pertama di Moto2 2026