Tapi konsekuensinya jelas: Sassuolo kesulitan bersaing.
“Kemudian memulai lagi, tetapi mereka tidak pernah menunjukkan keinginan untuk berkembang,”
tambah Matri melengkapi. Fokus pada pengembangan individu seringkali mengorbankan soliditas tim secara keseluruhan. Banyak talenta muda yang diorbitkan, tapi kontinuitas sebagai sebuah unit sulit dijaga. Alhasil, ketika berhadapan dengan tim yang lebih berpengalaman dan stabil, Sassuolo kerap keteteran.
Jadi, apa yang kita lihat sekarang? Sassuolo tetap menjadi destinasi menarik bagi bakat-bakat muda yang ingin bersinar di Serie A. Mereka punya mata yang tajam untuk menemukan permata. Namun begitu, musim 2025-2026 ini tampaknya akan tetap berat. Menjadi pabrik pemain punya untungnya sendiri, tapi mimpi untuk duduk di papan atas? Itu cerita lain.
Artikel Terkait
Lamine Yamal Selamatkan Barcelona dari Kekalahan dengan Penalti Menit Akhir
PSM Makassar di Ambang Pecat Tomas Trucha, Pelatih Absen di Latihan
PSM Makassar Dihukum Denda Rp150 Juta Akibat Aksi Suporter
Tudor Soroti Blunder Awal Usai Spurs Dibantai Atletico di Liga Champions