MAKASSAR – Ujian buat PSM Makassar belum juga berakhir. Kali ini, bukan hasil buruk di lapangan yang jadi masalah, melainkan tiga sanksi sekaligus dari Komdis PSSI yang mendarat di meja manajemen. Juku Eja benar-benar dapat giliran pahit.
Semua bermula dari aksi suporter usai laga kontra Persita Tangerang, awal Maret lalu di Stadion BJ Habibie. Kekalahan 2-4 rupanya memicu luapan emosi yang berujung pada pelanggaran disiplin. Dan konsekuensinya, klub yang harus menanggung.
Surat pertama bernomor 181/L1/SK/KD-PSSI/III/2026 sudah jelas isinya. Sekitar seratus suporter nekat masuk lapangan untuk protes. Atas aksi itu, berdasarkan Pasal 70 Kode Disiplin, PSM harus merogoh kocek Rp60 juta.
Belum selesai di situ. Surat kedua dengan nomor 182 menyusul. Kali ini terkait dua flare yang dinyalakan dan spanduk yang dibakar di area lapangan oleh penonton. Lagi-lagi, denda Rp60 juta dijatuhkan dengan pasal yang sama.
Lalu, ada surat ketiga. Nomor 183. Komdis mencatat ada pelemparan botol air minum kemasan di belakang bangku cadangan PSM saat pertandingan berlangsung. Untuk insiden ini, denda yang harus dibayar sedikit lebih ringan, Rp30 juta.
Kalau dijumlah, totalnya Rp150 juta. Angka yang tidak kecil untuk situasi klub mana pun.
Media Officer PSM, Sulaiman Abdul Karim, membenarkan semua sanksi itu.
“PSM Makassar kembali menerima sanksi dari Komdis PSSI. Ada tiga sanksi yang kami terima sekaligus,” ujarnya, Selasa kemarin.
Di sisi lain, suara lain datang dari kubu suporter. Muhammad Alfajri dari Red Gank, menilai aksi-aksi itu tak lepas dari kekecewaan yang sudah menumpuk. Performa tim yang tak kunjung membaik jadi pemicu utamanya.
“Pastinya hasil kemarin lawan Persita yang membuat kami sangat kecewa kepada semua pihak yang ada di tim. Kita main di kandang tapi serasa kita yang tamu,” katanya.
Ia mengakui manajemen boleh saja kecewa dengan sanksi yang diterima. Namun begitu, perasaan para pendukung yang setia juga perlu dipahami.
“Suporter meluapkan kekecewaannya, itu hal yang wajar melihat 11 pertandingan tanpa kemenangan. Di mana tanggung jawab pelatih dan pemain? Manajemen juga harus memikirkan perasaan suporter,” tegas Alfajri.
Jadi, di tengah tekanan kompetisi, PSM kini juga harus berurusan dengan masalah disiplin dan denda. Sebuah beban ganda yang tentu tak diinginkan siapa pun.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Start ke-17 di Moto3 Spanyol, Kenangan Comeback 2025 Jadi Modal
PSM Makassar Jadi Batu Sandungan Potensial bagi Persib di Perebutan Gelar Super League
Veda Ega Pratama Start ke-17 di Kualifikasi Moto3 Spanyol, Catat Waktu Lebih Cepat tapi Gagal Bersaing
Pemerintah Makassar Gelontorkan Rp350 Miliar untuk Stadion Untia, Target Rampung 2027