Papan Bawah Super League Mencekam, Lima Tim Berebut Hindari Degradasi

- Senin, 09 Maret 2026 | 19:00 WIB
Papan Bawah Super League Mencekam, Lima Tim Berebut Hindari Degradasi
Perang di Zona Merah Super League

JAKARTA – Kalau kamu pikir panasnya persaingan BRI Super League cuma terjadi di puncak klasemen, pikir lagi. Di bagian bawah, pertarungannya justru lebih brutal. Lima tim sedang berjibaku mati-matian, berusaha menghindari jurang degradasi yang sudah menganga di depan mata. Setiap laga, setiap poin, rasanya seperti urusan hidup dan mati.

Memasuki sisa sepuluh pertandingan terakhir, situasinya benar-benar mencekam. Klasemen papan bawah berubah seperti rollercoaster. Satu kemenangan bisa melambungkan posisi, satu kekalahan bisa langsung menjerumuskan.

Tekanan itu sendiri ternyata punya dua sisi. Di satu sisi, ia bisa menghancurkan mental. Tapi di sisi lain, ia juga bisa memicu performa luar biasa. Motivasi para pemain di tim-tim ini melonjak drastis. Mereka bukan lagi sekadar bermain untuk tiga poin, tapi untuk menyelamatkan harga diri dan masa depan klub.

Lihat saja susunannya saat ini. Madura United dan Persijap Jepara sama-sama mengumpulkan 20 poin, meski posisinya berbeda. Lalu ada PSBS Biak (18 poin), diikuti Persis Solo dan Semen Padang yang sama-sama mengoleksi 17 poin. Bahkan PSM Makassar yang di peringkat 13 dengan 24 poin pun belum bisa tidur nyenyak. Jaraknya terlalu tipis untuk merasa aman.

Dalam kondisi seperti ini, fluktuasi adalah satu-satunya hal yang pasti. Posisi bisa berubah drastis hanya dalam satu akhir pekan.

Laskar Kalinyamat Mulai Merangkak

Di tengah keputusasaan, ada secercah harapan dari Jepara. Persijap, yang sempat terpuruk, menunjukkan grafik yang cukup menggembirakan. Sejak pekan ke-21, mereka perlahan tapi pasti merangkak keluar dari zona merah. Kini mereka bertengger di posisi 15.

Konsistensi adalah kuncinya. Mereka tak lagi mudah dibongkar. Itu modal berharga untuk menghadapi sepuluh laga penuh tekanan ke depan.

Nasib Suram Kabau Sirah

Berbanding terbalik dengan Persijap, Semen Padang FC justru terlihat semakin limbung. Performa mereka terus merosot sejak pekan yang sama, dan kini mereka terdampar di dasar klasemen sebagai juru kunci. Situasi yang jelas-jelas mengkhawatirkan.

Merespon keterpurukan ini, manajemen mengambil langkah drastis. Mereka membawa Imran Nahumarury, mantan pemain timnas, untuk memegang kendali sebagai pelatih kepala baru.

Harapannya jelas: Imran bisa membawa angin perubahan dan menyuntikkan mental tempur yang baru bagi skuad Kabau Sirah.

Ujian pertama dan mungkin yang terberat buatan Imran datang hari ini, Senin (9/3/2026). Semen Padang harus berhadapan dengan PSBS Biak di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Bukan sekadar pertandingan biasa.

Banyak yang menyebut laga ini sebagai "final prematur". Kemenangan mutlak dibutuhkan kedua tim. Kalah, berarti mereka makin dalam terperosok dan membuka peluang bagi pesaing yang lain.

Pekan ke-25 ini benar-benar akan menjadi penentu. Dengan selisih poin yang begitu tipis, siapa pun bisa jatuh, siapa pun bisa bertahan. Pertanyaannya sekarang: tim mana yang punya nyali lebih besar untuk bertahan di kasta tertinggi? Dan siapa yang akhirnya harus menyerah pada takdir?

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar