Namun begitu peluit akhir berbunyi, sisi manusianya kembali muncul. Yang menarik, ia punya pesan khusus untuk suporter PSM hal yang jarang sekali terdengar dari seorang pelatih tim lawan.
“Dukung tim kalian. Jangan menyerah, karena mereka membutuhkan dukungan,” pesannya.
Seolah ia masih merasa bagian dari mereka. Seperti saudara yang merantau, namun masih peduli dengan kabar keluarga lamanya.
Secara tabel, hasil ini jelas menguntungkan Persebaya. Mereka mengokohkan posisi kelima dengan 38 poin, momentum positif setelah performa naik-turun. Sebaliknya, PSM tetap terperangkap di posisi ke-13 dengan koleksi 23 poin. Situasi yang memprihatinkan, dan ironisnya, fondasi tim yang dulu juara justru dibangun oleh pria yang kini berhasil mengalahkan mereka.
Memang, sepak bola selalu penuh paradoks semacam ini.
Pertandingan memang cuma 90 menit. Klasemen akan terus berubah. Pemain silih berganti. Tapi hubungan yang terbangun dari perjalanan panjang, rasanya, tak pernah benar-benar hilang. Ucapan Tavares menjadi buktinya. Di lapangan, rivalitas adalah hukum besi. Tapi di luar garis putih, rasa hormat dan kenangan indah bisa tetap hidup.
PSM mungkin sedang berjuang. Persebaya tengah mengejar mimpi baru.
Tapi bagi Bernardo Tavares, satu hal tetap nyata: Makassar akan selalu menjadi rumah lamanya. Dan kenangan, seperti yang kita tahu, punya caranya sendiri untuk bertahan.
Artikel Terkait
Doohan Peringatkan Potensi Gesekan Jika Marquez dan Acosta Jadi Rekan Setim di Ducati
Sugiono Terpilih Aklamasi Pimpin IPSI, Erick Thohir Dorong Pencak Silat Go Internasional
Prabowo Minta Maaf Gagal Bawa Pencak Silat ke Olimpiade, Serahkan Estafet ke Sugiono
Timnas Futsal Indonesia Runner-up Piala AFF 2026, Takluk 1-2 dari Thailand