Yang menarik, meski hasil tak berpihak, sorak pendukung Juventus tak pernah padam. Mereka memberikan aplaus panjang untuk perjuangan anak asuh Massimiliano Allegri yang bertahan dengan sepuluh pemain lebih dari satu jam. Atmosfer itu yang kemudian menjadi penghibur di tengah kekecewaan.
Penampilan keras kepala Juventus malam itu seperti jawaban atas kritik yang sering dilayangkan kepada mereka musim ini: soal kurangnya semangat juang. Mereka membantahnya dengan cara yang paling melelahkan, meski akhirnya kalah juga.
Memang ada momen-momen yang menyayat hati. Seperti saat Khephren Thuram terlihat menangis di pinggir lapangan, mungkin karena emosi campur aduk usai gol penyama kedudukan. Tapi bagi Locatelli, yang terpenting adalah apresiasi untuk usaha maksimal itu.
Dengan pintu Liga Champions tertutup, fokus kini beralih sepenuhnya ke Serie A. Tantangan berikutnya adalah AS Roma. Pertanyaannya, apakah Juventus bisa mempertahankan intensitas dan jiwa tempur seperti yang mereka pamerkan malam yang penuh air mata itu? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Latihan PSIS Memanas, Dua Pemain Asing Hampir Berkelahi Jelang Laga Krusial
Persebaya Raih Kemenangan Tipis Atas PSM, Tavares Fokus ke Laga Berat Lawan Persib
Real Madrid Usir Anggota Tribun yang Lakukan Salam Nazi di Bernabéu
Veda Ega Pratama Andalkan Kenangan Buriram untuk Debut Moto3 2026