Pada hari Minggu, 12 April 2026, Peru kembali menggelar pesta demokrasi. Ini bakal jadi pemilihan presiden kesembilan mereka dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir sebuah angka yang dengan jelas menggambarkan betapa goyahnya panggung politik di negara itu. Sekitar 27 juta warga diwajibkan datang ke TPS, memilih dari 35 nama kandidat yang ikut bertarung. Banyaknya calon itu sendiri sudah bicara banyak: politik Peru terfragmentasi, terpecah belah.
Dan dari semua nama yang bertarung, tak satu pun yang benar-benar menonjol. Survei-survei terakhir menunjukkan, dukungan untuk kandidat terdepan pun tak sampai menyentuh 15 persen. Artinya, hampir bisa dipastikan pemilu akan berlanjut ke putaran kedua pada bulan Juni nanti.
Di tengah situasi ini, satu isu yang paling menyita perhatian pemilih adalah keamanan. Rasa was-was itu beralasan. Angka kriminalitas melonjak dalam beberapa tahun belakangan. Data resmi mencatat, tingkat pembunuhan di Peru sudah naik lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade. Belum lagi kasus pemerasan yang juga meroket tajam. Warga merasa tidak aman.
Nah, dalam kontestasi kali ini, kandidat-kandidat beraliran konservatif tampak mendominasi. Salah satu nama yang paling sering disebut adalah Keiko Fujimori. Ini adalah kali keempatnya maju sebagai capres. Dalam kampanyenya, dia berjanji bakal "memulihkan ketertiban" hanya dalam 100 hari pertama pemerintahannya jika terpilih.
Tak cuma janji, Fujimori juga mengusulkan langkah-langkah keras. Dia ingin memberi kewenangan khusus pada aparat, termasuk melibatkan militer untuk mengamankan penjara dan perbatasan. Kebijakan terhadap imigran tanpa dokumen juga akan diperketat, mengikuti tren yang sedang kuat di beberapa negara Amerika Latin lainnya.
Artikel Terkait
Harga Plastik di Jember Melonjak Hampir 50% Akibat Gangguan Pasokan Global
Anggota DPR Desak Aturan Fair Share untuk Platform Digital Global
Cuaca Ekstrem dan Hujan Es Landa Bekasi, Sejumlah Pohon Tumbang Tutupi Jalan
Polisi Buru Preman Pelaku Pemalakan Rp100 Ribu kepada Sopir Bajaj di Tanah Abang