Prabowo Soroti 55 Juta Penerima Makan Bergizi dalam Arahan Khusus ke Kabinet

- Rabu, 07 Januari 2026 | 06:54 WIB
Prabowo Soroti 55 Juta Penerima Makan Bergizi dalam Arahan Khusus ke Kabinet

Hambalang, Bogor, Selasa siang (6/1). Udara di Padepokan Garuda Yaksa terasa cukup sejuk. Presiden Prabowo Subianto membuka retreat kabinet Merah Putih tepat pukul 14.00 WIB. Ia tampil dengan pakaian safari cokelat dan peci hitam. Di sampingnya, Wapres Gibran Rakabuming Raka mengenakan setelan serupa.

Acara ini bukan sekadar pertemuan formal. Prabowo langsung membuka dengan apresiasi mendalam untuk kinerja kabinetnya selama ini. Namun begitu, ia juga tak sungkan memberikan tegasan dan catatan khusus.

Rasa Terima Kasih dan Kekuatan Bangsa

“Saudara-saudara sekalian!” sapa Prabowo di awal taklimatnya. Suaranya terdengar penuh penghargaan. “Dengan ini semua saya ingin menggunakan kesempatan pertama di awal taklimat saya untuk menyampaikan terima kasih saya yang sedalam-dalamnya dari hati saya, terima kasih saya sebagai Presiden, sebagai pemimpin, sebagai penerima mandat dari rakyat Indonesia, sebagai boleh dikatakan nakhoda saya ingin menyampaikan terima kasih kepada pembantu-pembantu saya yang paling inti.”

Ucapan itu ditujukan kepada seluruh jajaran kabinet dan aparat negara. Ia mengakui, setahun terakhir penuh tantangan, mulai dari bencana alam hingga persoalan ekonomi yang kompleks. Tapi di balik semua itu, menurutnya, Indonesia punya ketangguhan yang tak perlu diragukan lagi. Kekuatan bangsa ini, katanya, sudah berulang kali teruji.

Sorotan Utama: Makan Bergizi Gratis

Pencapaian program Makan Bergizi Gratis (MBG) jadi salah satu sorotan utama pidatonya. Prabowo memaparkan, program yang dicanangkan setahun lalu, tepatnya 6 Januari 2025, kini sudah menjangkau puluhan juta penerima manfaat.

“Untuk itu kita telah melihat contoh-contoh banyak negara dan kita canangkan makan bergizi ini kita mulai dengan 6, pada tanggal 6 Januari 2025, hari ini adalah 6 Januari 2026 dan kita sudah mencapai hari ini dilaporkan kepada saya 55 juta penerima manfaat, 55 juta, 55 juta anak-anak Indonesia menerima makan tiap hari, dan termasuk ibu-ibu hamil,” ujarnya.

Angka itu ia bandingkan dengan Brasil yang butuh waktu 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima. Tentu, ia tak menampik ada kekurangan di lapangan. Evaluasi dan pengawasan ketat terus dilakukan, tujuannya agar program sebesar ini bisa mendekati sempurna.

Momen paling emosional muncul ketika ia menunjukkan video anak-anak penerima MBG. Suaranya bergetar. “Saya tidak paham manusia macam mana yang tidak tergerak hatinya melihat anak-anak seperti itu, Saya tidak paham. Hai orang-orang pintar, hai orang-orang pintar yang ngejek lihatlah dengan mata dan hatimu rakyat kita anak-anak itu,” kata Prabowo.

Ia bahkan bercerita, kunjungannya ke daerah sering disambut pertanyaan polos dari anak-anak: “Pak, kapan kami terima MBG?”. Itu yang membuatnya terharu sekaligus bersemangat.

Pujian dan ‘Teguran’ untuk Para Menteri

Prabowo memuji inisiatif dan keberanian para menteri dalam mengambil keputusan. “Saudara-saudara telah bekerja dengan penuh inisiatif, dengan penuh pemahaman, keberanian. Karena saudara-saudara, mengambil keputusan, mengambil inisiatif itu membutuhkan keberanian,” ucapnya.

Namun di sisi lain, ada juga ‘teguran’. Menurut Mensesneg Prasetyo Hadi yang ditemui usai acara, teguran itu lebih pada semangat untuk mendorong kerja lebih cepat lagi. Bukan memarahi.

“Teguran dalam artian melecut semangat, iya. Karena Bapak Presiden memang benar-benar menghendaki kita semua bekerja dengan jauh lebih cepat lagi, terutama di beberapa bidang yang bersifat penciptaan lapangan pekerjaan dan padat karya,” jelas Prasetyo.

Beberapa program yang disebut perlu dipacu antara lain pembangunan kampung nelayan dan pembuatan kapal tangkap ikan. Program padat karya ini dinilai punya dampak ganda: buka lapangan kerja sekaligus tingkatkan produksi protein untuk masyarakat.

Pesan Terakhir: Siap Dihantam

Di penghujung arahan, Prabowo mengingatkan semua pihak untuk siap menghadapi kritik dan fitnah. Baginya, itu adalah konsekuensi dari menjalankan pemerintahan.

“Jadi kita harus siap kalau kita dihantam, difitnah, kita diejek kita terima itu sebagai kebanggaan. Kalau orang jahat mengejek kita, berarti kita benar dan kita harus terus melaksanakan dan membela kebenaran,” tegasnya.

“Kita pasti dimaki, kita pasti difitnah karena banyak kekuatan, tidak hanya di negara kita, banyak kekuatan memang berada di pihak yang seneng di alam penuh korupsi, penuh penyelewengan, penuh penipuan. Mereka ingin kaya di atas penderitaan rakyat kecil,” tambah Prabowo.

Pesan itu jelas: jangan ragu. Selama niat dan langkahnya benar, maju terus.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar