Hambalang, Bogor, Selasa siang (6/1). Udara di Padepokan Garuda Yaksa terasa cukup sejuk. Presiden Prabowo Subianto membuka retreat kabinet Merah Putih tepat pukul 14.00 WIB. Ia tampil dengan pakaian safari cokelat dan peci hitam. Di sampingnya, Wapres Gibran Rakabuming Raka mengenakan setelan serupa.
Acara ini bukan sekadar pertemuan formal. Prabowo langsung membuka dengan apresiasi mendalam untuk kinerja kabinetnya selama ini. Namun begitu, ia juga tak sungkan memberikan tegasan dan catatan khusus.
Rasa Terima Kasih dan Kekuatan Bangsa
“Saudara-saudara sekalian!” sapa Prabowo di awal taklimatnya. Suaranya terdengar penuh penghargaan. “Dengan ini semua saya ingin menggunakan kesempatan pertama di awal taklimat saya untuk menyampaikan terima kasih saya yang sedalam-dalamnya dari hati saya, terima kasih saya sebagai Presiden, sebagai pemimpin, sebagai penerima mandat dari rakyat Indonesia, sebagai boleh dikatakan nakhoda saya ingin menyampaikan terima kasih kepada pembantu-pembantu saya yang paling inti.”
Ucapan itu ditujukan kepada seluruh jajaran kabinet dan aparat negara. Ia mengakui, setahun terakhir penuh tantangan, mulai dari bencana alam hingga persoalan ekonomi yang kompleks. Tapi di balik semua itu, menurutnya, Indonesia punya ketangguhan yang tak perlu diragukan lagi. Kekuatan bangsa ini, katanya, sudah berulang kali teruji.
Sorotan Utama: Makan Bergizi Gratis
Pencapaian program Makan Bergizi Gratis (MBG) jadi salah satu sorotan utama pidatonya. Prabowo memaparkan, program yang dicanangkan setahun lalu, tepatnya 6 Januari 2025, kini sudah menjangkau puluhan juta penerima manfaat.
“Untuk itu kita telah melihat contoh-contoh banyak negara dan kita canangkan makan bergizi ini kita mulai dengan 6, pada tanggal 6 Januari 2025, hari ini adalah 6 Januari 2026 dan kita sudah mencapai hari ini dilaporkan kepada saya 55 juta penerima manfaat, 55 juta, 55 juta anak-anak Indonesia menerima makan tiap hari, dan termasuk ibu-ibu hamil,” ujarnya.
Angka itu ia bandingkan dengan Brasil yang butuh waktu 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima. Tentu, ia tak menampik ada kekurangan di lapangan. Evaluasi dan pengawasan ketat terus dilakukan, tujuannya agar program sebesar ini bisa mendekati sempurna.
Momen paling emosional muncul ketika ia menunjukkan video anak-anak penerima MBG. Suaranya bergetar. “Saya tidak paham manusia macam mana yang tidak tergerak hatinya melihat anak-anak seperti itu, Saya tidak paham. Hai orang-orang pintar, hai orang-orang pintar yang ngejek lihatlah dengan mata dan hatimu rakyat kita anak-anak itu,” kata Prabowo.
Ia bahkan bercerita, kunjungannya ke daerah sering disambut pertanyaan polos dari anak-anak: “Pak, kapan kami terima MBG?”. Itu yang membuatnya terharu sekaligus bersemangat.
Artikel Terkait
Sutoyo Abadi: Presiden Terkurung, Staf Strategis Didesak Mundur
Ridwan Kamil dan Atalia Resmi Berpisah Setelah 29 Tahun
Pencarian Syafiq Ridhan di Gunung Slamet: Tongkat dan Doa Seorang Ayah di Hutan Belantara
Royman dan Alarm Demokrasi: Saat Watchdog Dihantam di Morowali