Program Makan Bergizi Gratis Beradaptasi untuk Ramadan, Beralih ke Sistem Bawa Pulang

- Senin, 23 Februari 2026 | 16:15 WIB
Program Makan Bergizi Gratis Beradaptasi untuk Ramadan, Beralih ke Sistem Bawa Pulang

MURIANETWORK.COM - Pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) melakukan penyesuaian pola distribusi dan menu selama bulan Ramadan. Perubahan ini diterapkan untuk memastikan asupan gizi anak-anak sekolah tetap terpenuhi, sekaligus menghormati ibadah puasa yang mereka jalani. Alih-alih dikonsumsi di sekolah pada siang hari, paket makanan kini dibagikan untuk dibawa pulang dan dinikmati saat waktu berbuka tiba.

Penyesuaian Menu dan Jadwal Distribusi

Menyikapi bulan suci Ramadan, menu yang disediakan pun mengalami penyesuaian. Pihak penyelenggara beralih ke jenis panganan yang lebih tahan lama dan praktis. Roti, biskuit bergizi, minuman sereal, serta buah-buahan dan kurma menjadi pilihan utama dalam paket makanan tersebut. Pergeseran ini dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan anak yang berpuasa.

Tak hanya menunya, jadwal penyalurannya juga diatur ulang. Untuk memudahkan pengelolaan dan memastikan kesegaran makanan, distribusi MBG dilakukan dua kali dalam seminggu, tepatnya setiap hari Senin dan Kamis.

Sosialisasi kepada Orang Tua Murid

Upaya sosialisasi telah dilakukan guna menyampaikan mekanisme baru ini kepada para wali murid. Komunikasi yang intens diharapkan dapat memastikan kolaborasi yang baik antara sekolah dan keluarga di rumah.

Kepala SD Negeri 197 Muaro Jambi, Netti Samjaya, menjelaskan detail imbauan tersebut. "Kami telah melakukan sosialisasi kepada orang tua siswa terkait perubahan mekanisme pembagian MBG," ujarnya pada Senin, 23 Februari 2026. Ia menambahkan, "Orang tua kami imbau untuk memastikan anak mengkonsumsi menu yang diberikan saat berbuka puasa di rumah."

Menjaga Tujuan Program di Bulan Ramadan

Langkah penyesuaian ini pada dasarnya diambil dengan pertimbangan yang matang. Inti dari program MBG, yaitu pemenuhan gizi anak sekolah, tetap menjadi prioritas utama. Di sisi lain, kebijakan ini juga menunjukkan kepekaan terhadap konteks religius dan kenyamanan psikologis peserta didik yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Dengan pola yang telah diubah, diharapkan manfaat program dapat terus dirasakan tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah di bulan Ramadan. Sinergi antara pihak sekolah dan orang tua di rumah menjadi kunci keberhasilan implementasi kebijakan yang adaptif ini.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar