Ucapannya terdengar personal dan hangat. Tapi Tavares segera menegaskan batasannya.
Lalu, bagaimana ia menghadapi duel ini? Bukan dengan nostalgia, melainkan analisis dingin.
Pengetahuan mendalamnya tentang PSM adalah keuntungan sekaligus tantangan. Dia tahu betul karakter pemain dan pola permainan lawan. Tapi sepak bola itu dinamis. Segalanya bisa berubah. Karena itulah, pendekatannya murni taktis.
Jadi, ini bukan sekadar duel emosional. Ini pertarungan intelektual antara pengalaman masa lalu dan strategi untuk masa kini.
Tekanan di pundak Persebaya sendiri sangat nyata. Persaingan di Super League musim ini ketat sekali. Persib dan Persija terus melaju konsisten, memaksa tim-tim di bawahnya untuk selalu waspada. Setiap poin yang tercecer bisa berakibat fatal. Persebaya ada di persimpangan: menang, peluang tetap terbuka; kalah, jarak ke papan atas bisa makin lebar.
Dalam situasi seperti ini, faktor mental sering jadi penentu. Gelora Bung Tomo nanti pasti akan dipenuhi teriakan Bonek. Atmosfer itu bisa jadi penyemangat, tapi juga beban jika tim tak siap.
Pada akhirnya, semua berujung pada profesionalisme.
Cerita pelatih melawan mantan klubnya memang selalu menarik. Tapi konteks setiap orang berbeda. Bagi Bernardo Tavares, laga ini bukan soal pembalasan atau membuktikan sesuatu. Ini murni soal komitmen. Bagaimana seorang pelatih menempatkan emosi pribadi di belakang kepentingan tim yang ia pimpin sekarang.
Dulu, dialah arsitek kejayaan PSM. Kini, demi ambisi Persebaya, ia harus jadi alasan mantan klubnya pulang dengan tangan hampa.
Nanti di atas lapangan, tak ada ruang untuk kenangan manis. Hanya ada satu tujuan: membawa pulang kemenangan.
Artikel Terkait
Erick Thohir Beberkan 20 Program Strategis Kemenpora, Target Tuntas 2026
Yuran dan Tavares Siap Tinggalkan Kenangan demi Kemenangan di Duel Panas PSM vs Persebaya
Infantino Tegaskan Piala Dunia 2026 di Meksiko Tetap Aman Meski Ada Gelombang Kekerasan
PSM Makassar Hadapi Persebaya dalam Duel Penuh Muatan Taktik dan Emosional