SURABAYA Sepak bola memang punya caranya sendiri untuk mempertemukan seseorang dengan masa lalunya. Dan seringkali, momentumnya datang di saat yang paling genting. Bernardo Tavares merasakannya langsung Rabu malam itu, di tengah sorot lampu Stadion Gelora Bung Tomo. Ini bukan cuma laga lanjutan Indonesia Super League biasa. Bagi sang pelatih, ini adalah perjumpaan yang sarat makna.
Persebaya butuh menang. Mendesak. Posisi di klasemen harus diperbaiki, sementara persaingan ketat dengan Persib dan Persija di papan atas makin panas. Dua kekalahan beruntun membuat ruang gerak Green Force makin sempit. Napas mereka sesak.
Dan di tengah tekanan itu, lawan yang datang justru PSM Makassar. Klub yang namanya melekat erat dengan sejarah terbaik Tavares di Indonesia. Sungguh sebuah paradoks: demi mempertahankan masa depannya bersama Persebaya, ia harus mengubur kenangan indah dari masa lalunya.
Pertandingan ini jelas lebih dari sekadar perebutan tiga poin.
Kekalahan dari Bhayangkara FC dan Persijap Jepara bikin posisi Persebaya goyah. Kompetisi sudah masuk fase krusial, di mana selisih poin tipis bisa mengubah segalanya. Menang atas PSM adalah sebuah keharusan.
Tapi, ada dimensi emosional yang menggantung di udara. Sulit diabaikan.
Di dunia sepak bola modern yang serba instan, durasi tiga setengah musim itu bukan waktu singkat. Itu adalah periode untuk membangun sebuah tim, membentuk identitas, dan yang paling penting, menciptakan ikatan. PSM bukan sekadar mantan klub bagi Tavares. Ia adalah bagian dari cerita yang membentuk namanya di sini.
Perjalanannya dari Juku Eja ke Green Force punya cerita sendiri.
Kedatangannya ke Makassar di April 2022 adalah sebuah proyek jangka panjang. Tavares tak cuma membangun tim, tapi juga mentalitas juara yang sempat hilang. Puncaknya terjadi musim 2022/2023: PSM Makassar akhirnya menjuarai Liga 1, mengakhiri puasa gelar panjang selama 23 tahun. Prestasi itu mengangkat namanya.
Namun, sepak bola juga keras. Cerita indah itu berakhir di Oktober 2025, dipicu persoalan pembayaran gaji yang memaksa Tavares mengundurkan diri. Dan kini, hanya selang beberapa bulan, ia sudah harus berhadapan lagi dengan klub yang dulu ia sebut rumah.
Artikel Terkait
Erick Thohir Beberkan 20 Program Strategis Kemenpora, Target Tuntas 2026
Yuran dan Tavares Siap Tinggalkan Kenangan demi Kemenangan di Duel Panas PSM vs Persebaya
Infantino Tegaskan Piala Dunia 2026 di Meksiko Tetap Aman Meski Ada Gelombang Kekerasan
PSM Makassar Hadapi Persebaya dalam Duel Penuh Muatan Taktik dan Emosional