SURABAYA – Ada paradoks yang aneh sedang terjadi di Stadion Gelora Bung Tomo. Tempat yang seharusnya jadi neraka bagi lawan, kini justru terasa ramah. Data terbaru Super League 2025/2026 bicara jelas: Persebaya seolah lebih jago main di rumah orang.
Ironis, bukan? Di depan puluhan ribu Bonek yang bersuara lantang, tim berjuluk Green Force ini justru kerap kehilangan gigi. Performa mereka di kandang sendiri terasa jauh lebih melempem dibanding saat melawat. Situasi ini tentu saja memantik kritik, bahkan sindiran pedas dari suporter yang kecewa. Salah satu yang disoroti adalah soal jersey merah.
Angka-angkanya cukup mencengangkan. Dari 11 laga kandang musim ini, Persebaya cuma menang lima kali. Mereka imbang tiga kali dan kalah tiga pertandingan. Rata-rata poin yang diraih cuma 1,64. Padahal, GBT hampir selalu penuh dengan dukungan sekitar 16.632 suporter.
Di sisi lain, catatan tandang mereka justru lebih solid. Sudah 10 kali main di kandang lawan, mereka berhasil mencuri empat kemenangan, lima seri, dan cuma kalah sekali. Rata-rata poinnya 1,70. Mereka tampil efisien dan disiplin meski cuma ditonton rata-rata 5.910 penonton. Sungguh kontras yang sulit dijelaskan.
Kekalahan Pahit dari Bhayangkara
Bukti kerapuhan itu kembali terlihat Sabtu lalu (14/2/2026). Persebaya tumbang di hadapan Bonek sendiri, dikalahkan Bhayangkara FC 1-2.
Gawang mereka bobol dua kali lebih dulu lewat Henry Doumbia di menit 26 dan Moussa Sidibe menjelang turun minum. Gol balasan Mihailo Perovic di menit 44 tak cukup untuk menebus kekalahan.
Kekalahan ini berdampak langsung di klasemen. Posisi Persebaya mentok di peringkat lima dengan 35 poin, tertinggal lima angka dari Malut United di atas. Tekanan makin berat karena Persita Tangerang di bawah berpeluang menyamai poin mereka. Untungnya, selisih gol masih menguntungkan Persebaya.
Sorotan pada Jersey dan Mental
Di tengah kekecewaan, banyak Bonek justru menyoroti hal yang mungkin dianggap sepele: jersey merah yang dipakai saat laga kandang. Bagi mereka, warna itu seperti mengabaikan identitas hijau sakral dan dianggap membawa sial.
Media sosial klub pun banjir komentar pedas.
"Home kok merah, merah tanda berhenti, berhenti rekormu," tulis satu akun.
"Wes feeling sii nek ganti jersey mesti kalah," keluh suporter lain yang merasa ada hubungannya.
Tak sedikit yang menduga pemain justru grogi di depan pendukung sendiri. "Grogi didelok Bonek ta? Main home mesti melempem."
Seruan untuk kembali ke identitas asli pun menggema. "Identitase persebaya iku ijooo duduk abang!! Ayo ndang bangkit jool!!"
Peringatan Keras untuk Pelatih
Secara psikologis, situasinya rumit. Dukungan masif di GBT ternyata bisa jadi pedang bermata dua. Ekspektasi tinggi dari tribun justru berubah jadi beban yang memberatkan langkah pemain.
Fakta bahwa poin tandang lebih baik dari poin kandang adalah alarm keras. Ini jadi peringatan untuk manajemen dan tim pelatih Bernardo Tavares.
Jika masalah identitas, mental, dan strategi di kandang sendiri ini tidak segera diurai, target finis di papan atas bisa jadi mimpi. Persebaya harus cepat-cepat menemukan kembali taringnya di GBT. Sebelum anomali memalukan ini berlarut dan jadi bahan olokan yang tak berkesudahan.
Artikel Terkait
Conte: Napoli Pantas Menang Meski Hanya Imbang Lawan Roma
Manchester United Terpaksa Cari Opsi Lain Usai Ancelotti dan Tuchel Tolak Tawaran
Manchester United Gagal Rekrut Ancelotti dan Tuchel, Carrick Jadi Opsi Utama
Media Malaysia Tuding Erick Thohir Dalangi Laporan FAM ke FIFA