Media sosial klub pun banjir komentar pedas.
"Home kok merah, merah tanda berhenti, berhenti rekormu," tulis satu akun.
"Wes feeling sii nek ganti jersey mesti kalah," keluh suporter lain yang merasa ada hubungannya.
Tak sedikit yang menduga pemain justru grogi di depan pendukung sendiri. "Grogi didelok Bonek ta? Main home mesti melempem."
Seruan untuk kembali ke identitas asli pun menggema. "Identitase persebaya iku ijooo duduk abang!! Ayo ndang bangkit jool!!"
Peringatan Keras untuk Pelatih
Secara psikologis, situasinya rumit. Dukungan masif di GBT ternyata bisa jadi pedang bermata dua. Ekspektasi tinggi dari tribun justru berubah jadi beban yang memberatkan langkah pemain.
Fakta bahwa poin tandang lebih baik dari poin kandang adalah alarm keras. Ini jadi peringatan untuk manajemen dan tim pelatih Bernardo Tavares.
Jika masalah identitas, mental, dan strategi di kandang sendiri ini tidak segera diurai, target finis di papan atas bisa jadi mimpi. Persebaya harus cepat-cepat menemukan kembali taringnya di GBT. Sebelum anomali memalukan ini berlarut dan jadi bahan olokan yang tak berkesudahan.
Artikel Terkait
PSM Makassar dan Persis Solo Bermain Imbang 1-1 di Stadion B.J Habibie
John Herdman Main Bola di Pantai Mandalika Usai Tugas FIFA Series
Bhayangkara FC Bidik Balas Dendam atas Persija di Kandang Sendiri
Gaji Bernardo Silva Jadi Kendala Utama Juventus dalam Perburuan Transfer