"Saya juga sempat jadi kapten. Dari situ, belajar banyak soal bagaimana memimpin," akunya.
Etos kerjanya yang gila-gilaan rupanya sudah melekat sejak muda. Paes mengaku baru serius jadi kiper di usia yang relatif telat. Tapi begitu ketemu passion-nya, dia seperti tak bisa berhenti.
"Passion itu sudah dalam darah. Setelah menemukan posisi itu, mereka susah mengusir saya dari lapangan," kenangnya sambil tertawa. "Kalau sudah suka, ya kamu ingin maksimalkan. Sampai sekarang, saya masih betah berjam-jam di lapangan atau nge-gym. Rasanya, itu yang bikin saya terus berkembang."
Proses kepindahannya ke Ajax sendiri berjalan kilat. Meski komunikasi dengan klub sudah terjalin beberapa tahun, semuanya jadi nyata begitu musim panas tiba.
"Kami sudah saling kontak beberapa tahun terakhir. Tapi pas hari pertama pemusatan latihan, agen saya kirim pesan. Dan semuanya bergulir dengan cepat setelah itu," cerita Paes.
Hari-hari terakhir memang menegangkan. Negosiasi alot, detik-detik penantian yang bikin deg-degan. "Mendekati finalisasi, semuanya terasa mencekam. Kamu nggak mau deal ini gagal, kan? Syukurlah, akhirnya beres juga."
Kini, dengan segala pengalaman dari seberang Atlantik itu, Maarten Paes siap membuka babak baru. Pulang ke Belanda, bukan sebagai pemula, tapi sebagai pribadi yang lebih matang. Ajax mendapatkan lebih dari sekadar seorang penjaga gawang.
Artikel Terkait
Mario Suryo Aji Peringkat Ketiga di Latihan Bebas Moto2 Brasil
Hamilton Akui Tantangan Ekstra Era Regulasi Baru F1 2026
Veda Ega Pratama Catat P8 di FP1 Moto3 Brasil, Jadi Pembalap Honda Tercepat Kedua
Veda Ega Pratama Raih P8 di FP1 Moto3 Brasil, Ungguli Rival Asia Tenggara