Nggak cuma itu. Faktor kepemimpinan juga pertimbangan penting. Dengan usia dan jam terbangnya, Lagator diharap bisa jadi figur pemimpin di belakang bimbing pemain muda macam Sulthan Zaki, Daffa Salman, atau Mufli Hidayat yang belakangan sering main.
“Dia sudah senior. Pasti bisa jadi leader juga buat pemain-pemain muda. Kehadirannya diharap bawa dampak positif,” katanya.
Isu Yuran dan Energi Baru
Di kalangan suporter, nama Lagator bahkan mulai dikaitin sama masa depan Yuran Fernandes. Muhammad Alfajri dari Red Gank secara terbuka bilang Lagator bisa jadi opsi pengganti Yuran kalau bek asal Tanjung Verde itu beneran hengkang.
“Kalau memang datang, pastinya bisa jadi pengganti yang bagus untuk Yuran. Soalnya Yuran sepertinya sudah nggak sepenuh hati di PSM,” kata Alfajri.
Menurutnya, suporter nggak akan halangi kalau Yuran memilih pergi.
Lebih dari sekadar ganti nama, Lagator diharap bawa energi baru ke ruang ganti. PSM butuh kejutan, sesuatu yang bisa picu kebangkitan di tengah performa yang naik-turun.
“Mudah-mudahan bisa kasih warna baru. PSM butuh hal baru buat bangkit,” ujarnya.
Terhalang Dinding Sanksi
Tapi semua harapan itu terbentur realitas yang sama: sanksi FIFA. Larangan registrasi pemain bikin setiap rencana transfer PSM berjalan di wilayah abu-abu. Nama Lagator mungkin udah ada di meja manajemen, tapi belum tentu bisa diwujudin dalam waktu dekat.
Di sinilah PSM sekarang terjepit antara kebutuhan mendesak dan keterbatasan administratif. Andai sanksi itu nggak ada, mungkin Dusan Lagator sudah siap meredam serangan Semen Padang akhir pekan ini.
Tapi ya itu. Sepak bola selalu menuntut adaptasi. Dan buat PSM Makassar, musim ini bukan soal kenyamanan. Ini soal bertahan, dengan atau tanpa pemain yang diidamkan.
Artikel Terkait
Persija Juarai Klasemen Penonton Super League 2025/2026
Indonesia Kirim 17 Wakil ke Kejuaraan Asia 2026, Ganda Putra Jadi Sorotan
Frans Putros Dipanggil Timnas Irak untuk Persiapan Play-off Piala Dunia
AFC Jatuhkan Sanksi, Malaysia Kalah WO dan Gagal ke Piala Asia 2027