Namun begitu, gim kedua ternyata tidak semudah itu. Raymond dan Joaquin bangkit. Mereka mengubah taktik, bermain lebih ofensif, dan berhasil menekan. Unggul cepat 4-1, mereka memaksa Leo/Bagas keluar dari ritme yang nyaman.
Leo/Bagas sempat tertatih. Mereka tertinggal 9-12, dan suasana di lapangan mulai berubah. Tapi di sinilah mental juara mereka diuji. Mereka tak panik. Fokus mereka hanya satu: menjaga reli, mematikan serangan lawan, dan menunggu momentum.
Dan momentum itu benar-benar datang. Perlahan, tekanan berbalik arah. Leo/Bagas mulai mendikte lagi, memancing lawan untuk melakukan kesalahan. Pada poin-poin krusial, Raymond/Joaquin justru kerap gagal menutup reli dengan baik.
Momen itu dimanfaatkan habis-habisan oleh Leo dan Bagas. Mereka membalikkan keadaan, lalu meraih poin demi poin. Gim kedua akhirnya mereka tutup dengan skor 21-17. Sorak-sorai pun pecah, menandai gelar juara mereka.
Kemenangan ini jelas bukan sekadar angka. Ini adalah pernyataan. Leo Rolly Carnando dan Bagas Maulana membuktikan diri sebagai pasangan paling tangguh dan konsisten sepanjang turnamen. Prestasi mereka di Bangkok ini sekaligus mengingatkan dunia tentang kekuatan ganda putra Indonesia yang selalu siap bersaing di panggung internasional.
Artikel Terkait
Persib Berburu Striker Naturalisasi, Mauro Zijlstra Jadi Opsi Utama?
PSIS Pecat Jafri Sastra: Langkah Strategis atau Hanya Pelampiasan Kekecewaan?
Persib Berburu Striker Naturalisasi, Siapa yang Bakal Diterkam Maung Bandung?
Duel Sengit Ganda Campuran Warnai Gelar Ketiga Indonesia di Thailand Masters