Di Bawah Bayang-Bayang Sanksi
Nah, ini poin krusialnya. Kedatangan Boboev justru terjadi saat PSM masih terkena sanksi FIFA larangan meregistrasi pemain. Tapi lihatlah, manajemen klub malah bergerak agresif. Setelah Cumic dan sebelumnya Dusan Lagator, kini Boboev. Semuanya pemain siap pakai, bukan proyek jangka panjang.
Langkah ini bicara lebih keras dari kata-kata. Pesannya jelas: ini soal survival. Ini soal bertahan hidup.
Posisi PSM memang lagi rapuh. Persaingan di papan bawah Super League makin sengit. Klub-klub lain berbenah dan langsung kelihatan hasilnya. Kekalahan 0-2 dari Persijap Jepara, tim promosi yang penuh energi, jadi alarm paling keras. Menunggu? Bukan pilihan.
Masalah Registrasi dan Sebuah Taruhan
Tentu, jalan masih panjang. Meski federasi Tajikistan sudah umumkan, satu halangan besar masih ada: bagaimana meregistrasikan Boboev di tengah sanksi? Ini urusan birokrasi yang rumit dan berisiko.
Tapi dari internal klub, ada sinyal bahwa manajemen sudah menyiapkan skenario administratif. Mereka berusaha mencari celah agar transfer ini bisa sah sesuai regulasi. Sebuah taruhan, tentu saja. Apalagi nilai pasarnya sekitar Rp 4,35 miliar – angka yang tidak kecil dalam situasi finansial yang juga tak mudah.
Pilihan untuk Tidak Diam
Pada akhirnya, inilah yang menarik. Di saat banyak klub memilih bermain aman, PSM memilih untuk mengambil risiko. Mendatangkan Cumic, Boboev, dan Lagator adalah cara mereka berkata: kami tidak akan berpangku tangan.
Mereka sedang berperang. Melawan waktu, melawan keadaan, dan melawan kemungkinan terjerembap lebih dalam.
Dalam konteks itu, Sheriddin Boboev bukan cuma sekadar pemain baru. Ia adalah simbol. Bukti bahwa PSM Makassar, sekali lagi, menolak untuk menyerah sebelum pertandingan benar-benar usai.
Artikel Terkait
Leo/Bagas Kuasai Final All-Indonesia, Sabet Gelar Thailand Masters 2026
Ganda Putri Tutup Dominasi Indonesia di Thailand Masters
Trio MBG Serukan Hijaukan GBT! Jelang Duel Sengit Lawan Dewa United
Tiwi dan Fadia Ukir Sejarah, Raih Gelar Perdana di Thailand Masters