Kepercayaan pelatih itu nggak sia-sia. Malik membalasnya dengan kerja keras dan yang paling kelihatan keberanian bawa bola maju.
Lihat saja performanya. Dalam satu laga, dia mencatat 11 operan akurat dari 13 percobaan. Persentasenya 85%. Di area lawan, 9 dari 11 umpan sukses. Bahkan untuk umpan jauh, akurasinya sempurna: 100% dari dua percobaan.
Tapi yang bikin orang melirik adalah dribelnya. Tiga kali mencoba, tiga kali berhasil. Seratus persen. Dribel-dribel itu nggak cuma untuk gaya-gayaan. Itu memecah pertahanan lawan, membuka ruang, dan bikin bek-bek PSIM Yogyakarta keluar dari posisi nyaman mereka.
Jelas, Malik bukan striker murni. Dalam sembilan duel, dia hanya menang tiga. Di udara, dia belum dominan. Tapi kontribusinya lebih dari itu.
Agresivitasnya tinggi. Dia turun membantu recovery, dan mau kerja keras membantu pertahanan. Kehilangan bola lima kali? Wajar untuk pemain yang gaya mainnya langsung dan progresif seperti dia. Yang menarik, Malik bermain bersih. Nol pelanggaran yang dia beri atau terima. Itu menunjukkan efisiensi dan kontrol diri yang bagus.
Jejak Sananta sepertinya mulai terlihat lagi. Publik Makassar pasti paham betul bagaimana Tavares membentuk Sananta. Dari pemain yang dianggap biasa, jadi striker lokal paling tajam, hingga akhirnya kebanggaan timnas.
Polanya mulai terasa di Surabaya. Prosesnya belum lewat gol-gol beruntun, tapi lewat pemberian kepercayaan dan disiplin menjalankan peran.
Malik Risaldi mungkin belum setara Sananta sekarang.
Tapi di tangan pelatih yang sama, jalannya sudah mulai terlihat.
Dan seperti dulu di PSM, ketika prosesnya matang ledakannya cuma soal waktu saja.
Artikel Terkait
Ragnar Oratmangoen: Pintu Transfer ke Persebaya Mulai Terbuka?
Duel Sengit Indonesia di Semifinal Thailand Masters, Tiga Tiket Final Sudah Di Kantong
Babak Play-Off Liga Champions: Jalan Berduri Menuju 16 Besar
PSM Makassar Belum Puas, Masih Berburu Striker Asing Baru