Jerman Tegaskan Konflik Selat Hormuz Bukan Urusan NATO

- Selasa, 17 Maret 2026 | 04:00 WIB
Jerman Tegaskan Konflik Selat Hormuz Bukan Urusan NATO

Jakarta - Pemerintah Jerman punya jawaban tegas untuk seruan terbaru Donald Trump. Presiden AS itu meminta sekutu-sekutunya membantu mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang kini diblokade Iran. Namun, Berlin dengan jelas menyatakan bahwa konflik ini bukan urusan NATO.

"Perang ini tidak ada hubungannya dengan NATO. Ini bukan perang NATO," tegas juru bicara Kanselir Jerman Friedrich Merz, seperti dilaporkan CNN, Senin (16/3/2026).

Pernyataan itu bukan datang tiba-tiba. Komentar Merz muncul sebagai respons langsung terhadap ancaman terselubung Trump terhadap aliansi militer Barat tersebut. Trump sebelumnya bilang, negara-negara NATO bakal menghadapi masa depan yang suram kalau enggan bergabung melawan Iran di Selat yang strategis itu.

Dan sikap Jerman jelas: mereka takkan ikut campur.

"Partisipasi belum dipertimbangkan sebelum perang ini dan tidak dipertimbangkan sekarang," tambah juru bicara pemerintah itu, mempertegas posisi.

Pagi harinya, sesampai di Brussels, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul sudah lebih dulu bersuara. Di hadapan wartawan, ia menyatakan tidak melihat adanya peran bagi anggota NATO di Selat Hormuz. Posisi Merz sendiri memang kian mengeras belakangan ini, seiring perang dengan Iran yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Pekan lalu, misalnya, ia tak segan mengkritik Washington yang dinilai melonggarkan sanksi terhadap Rusia. Merz bahkan secara terbuka mengaku tidak paham dengan rencana AS untuk mengakhiri konflik.

Hari ini, Kanselir Merz dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Belanda Rob Jetten di Berlin. Pertemuan itu dipastikan akan diwarnai pertanyaan tentang bagaimana mereka menanggapi tuntutan Trump.

Ancaman Trump dan Tekanan ke Sekutu

Semua berawal dari wawancara Trump dengan Financial Times, Minggu (15/3). Dalam percakapan itu, ia menyebut masa depan NATO bisa "sangat buruk" jika sekutu-sekutu AS ogah membantu Washington membuka kembali selat vital tersebut.

Bukan cuma ke Eropa, tekanan juga dilayangkan ke Beijing. Trump mengancam akan menunda pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping yang rencananya digelar akhir bulan ini. Tujuannya satu: mendesak China agar turut membantu mengamankan lalu lintas di Hormuz.

"Sudah sepatutnya negara-negara yang mendapat manfaat dari Selat itu membantu memastikan tidak terjadi hal buruk di sana," kata Trump kepada surat kabar tersebut.

Namun begitu, tampaknya ancaman dan desakan itu belum cukup untuk menggerakkan sekutu seperti Jerman. Mereka tetap pada pendiriannya, memisahkan konflik ini dari kewajiban aliansi.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar