Suara peluit akhir di Anfield malam itu lebih terdengar seperti erangan. Liverpool, sang juara bertahan, harus puas berbagi angka 1-1 dengan Tottenham Hotspur, tim yang catatan liganya sedang berantakan. Hasil imbang di kandang sendiri ini, Minggu (15/3) lalu, bukan sekadar poin yang tercecer. Ini adalah pukulan telak yang semakin menggencet posisi pelatih Arne Slot.
Bayangkan, Tottenham datang dalam keadaan tidak karuan. Tapi mereka tetap bisa kabur dari markas Liverpool dengan membawa satu poin. Sungguh, ini adalah salah satu titik nadir bagi The Reds sepanjang musim 2025/2026 yang penuh gejolak ini.
Memang, awal ceritanya begitu manis. Saat pertama kali menggantikan sang legenda Jurgen Klopp, Slot langsung memukau. Dia tak banyak mengutak-atik filosofi permainan “heavy metal football” yang sudah mendarah daging. Hasilnya? Liverpool melaju kencang dan meraih gelar Premier League kedua mereka. Slot dipuji-puji, dielu-elukan. Tapi sepak bola memang tak pernah linear.
Namun begitu, segalanya berbalik arah secara drastis musim ini. Mimpi mempertahankan trofi bahkan sudah buyar sejak Oktober lalu, ditenggelamkan oleh rentetan hasil buruk dan penampilan tim yang benar-benar tidak konsisten. Padahal, klub ini tak tanggung-tanggung menggelontorkan dana lebih dari 400 juta poundsterling di bursa transfer musim panas. Investasi sebesar itu, wajar saja kalau ekspektasi membubung tinggi. Tekanan pun kini membayangi Slot di setiap sudut.
Yang paling terasa adalah perubahan di lapangan. Gaya permainan yang dulu beringas, cepat, dan intens, kini terasa datar dan mudah ditebak. Bahkan atmosfer di Anfield ikut berubah. Tribun yang biasanya bergemuruh, malam itu lebih banyak diisi oleh keheningan yang tegang, sesekali diselingi decakan kecewa.
Tentu, sorotan tidak hanya untuk Arne Slot. Banyak pemain kunci yang performanya jauh melorot.
Mohamed Salah, misalnya. Masa depannya di klub mulai dipertanyakan. Musim yang mengecewakan, ditambah perselisihan dengan pelatih akhir tahun lalu, membuat posisinya goyah. Saat lawan Tottenham, dia malah duduk di bangku cadang. Saat akhirnya dimasukkan, tiga peluang yang dia ciptakan semuanya melenceng sebuah gambaran yang jauh dari sang “Raja Mesir” di masa kejayaannya.
Di sektor pertahanan, Andy Robertson seperti kehilangan nyawa. Bek kiri andalan itu kehilangan energi dan ketajaman yang menjadi ciri khasnya. Penampilannya yang payah melawan Spurs membuat banyak orang berbisik: kontraknya mungkin tak perlu diperpanjang.
Lini serang pun tak lebih baik. Cody Gakpo seakan kehilangan sihirnya saat dipasang sebagai starter, produktivitasnya merosot. Sementara Federico Chiesa terlihat seperti tak punya tempat. Melawan Tottenham, dia cuma diberi kesempatan beberapa menit di akhir laga, sekedar usaha mencari gol penyelamat.
Di tengah lapangan, Alexis Mac Allister juga dapat kritik pedas.
Mantan bek Liverpool, Jamie Carragher, dengan blak-blakan menyebut gelandang juara Piala Dunia itu sudah kehilangan kecepatan dan pengaruhnya di lapangan.
Lalu ada Joe Gomez, pemain yang paling lama mengabdi di skuad saat ini. Sayangnya, loyalitas tak dibarengi performa puncak. Penampilannya sebagai bek tengah melawan Tottenham dinilai jauh dari standar elite, mungkin efek dari riwayat cedera panjang yang menghantuinya.
Jadi, hasil imbang ini bukan sekadar satu pertandingan buruk. Ini adalah alarm peringatan. Tekanan sudah memuncak. Jika keadaan tak juga membaik, jangan heran kalau musim panas nanti Liverpool akan melakukan pembedahan besar-besaran. Anfield butuh perubahan, dan butuh segera.
Artikel Terkait
Persib Bandung Balikkan Keadaan, Kalahkan Bhayangkara 4-2 dan Rebut Puncak Klasemen dari Borneo FC
Tim Uber Indonesia Kalahkan Denmark, Tantang Korea Selatan di Semifinal
Pedrosa Prediksi Duel Bezzecchi vs Marquez di MotoGP 2026, Martin Jadi Kuda Hitam
Bruno Moreira Diuji di Empat Laga Sisa: Kapten Persebaya Harus Buktikan Diri di Tengah Standar Tinggi Bernardo Tavares