Kontraknya yang panjang hingga 2028 itu bukan cuma soal urusan bisnis. Shayne melihat dirinya, bersama pemain diaspora lain seperti Thom Haye atau Jordi Amat, punya peran lebih besar. Mereka adalah bagian dari gelombang transformasi yang digaungkan PSSI.
Harapannya sederhana: pengalaman dan standar profesional ala Eropa yang mereka bawa bisa menular. Menciptakan efek berantai, meningkatkan kualitas liga baik secara teknis maupun mental.
“Kita harus saling membantu untuk maju,” katanya. “Kalau isinya hanya kritik dan komentar negatif tanpa keseimbangan, itu tidak akan membawa manfaat bagi negara ini.”
Sebuah Gelombang yang Disengaja
Fenomena kepulangan pemain-pemain kunci Timnas ke BRI Liga 1 memang sedang terjadi. Shayne ada di garda depan. Ia mengajak semua pihak melihatnya dengan optimisme, bukan pesimisme.
Memang, jalan menuju peningkatan kualitas liga itu panjang dan berliku. Tapi menurut Shayne, langkah ini adalah bagian dari proses yang tak terhindarkan. Sebuah kontribusi nyata.
“Saya paham semua orang ingin yang terbaik untuk kami. Tapi ini juga bagian dari proses perkembangan sepak bola Indonesia,” pungkasnya. Sentuhan akhir dari seorang pemain yang rupanya punya misi jauh lebih besar sekadar menyundul bola dan menghalau serangan.
Artikel Terkait
Persebaya Tak Kapok, Rumor Craig Goodwin Kembali Menghangat
Krisis Lini Tengah Persija: Ricky Kambuaya Beri Kode ke Kemayoran?
Maarten Paes Pilih Ajax, Peluang Sejarah Liga Champions Terbuka
PSM Makassar Incar Bek Montenegro untuk Atasi Kebocoran di Lini Belakang