SURABAYA Minggu malam itu, Stadion Gelora Bung Tomo bergemuruh. Persebaya baru saja menggasak PSIM Yogyakarta 3-0. Di pinggir lapangan, Bernardo Tavares berdiam sejenak. Wajahnya tenang, penuh fokus. Sang pelatih asal Portugal itu tampak benar-benar larut dalam permainan.
Pemandangan ini punya ironi tersendiri, terutama bagi yang mengikuti jejaknya di Indonesia. Coba bandingkan. Di Surabaya, pembicaraannya murni soal taktik dan intensitas. Beberapa musim lalu di PSM Makassar? Ceritanya lain. Pikirannya kerap tersita oleh urusan di luar lapangan gaji yang molor, bahkan kisah getir dimana piala dan kaos penghargaan harus ‘dilelang’ demi menutupi kebutuhan klub. Sungguh, perbedaan yang telanjang.
Kemenangan 3-0 tadi bukan cuma angka. Persebaya tampil efektif dan disiplin. Yang menarik, meski cuma menguasai bola 20 persen, mereka menciptakan peluang-peluang berbahaya. Statistik expected goals mereka mencapai 2.7. Itu angka yang cukup berbicara.
Menurut Tavares, identitas timnya justru bersinar di babak kedua.
Timnya menekan dengan transisi cepat, tak memberi ruang PSIM untuk bernapas. Dari 12 tembakan, 6 tepat sasaran. Akurasi 50 persen itu bicara soal efisiensi, bukan cuma hantam kromo.
Namun yang paling mencolok adalah ketenangan mereka. Sepanjang laga, Persebaya hanya kehilangan bola dua kali. Statistik langka yang menunjukkan fokus dan disiplin tingkat tinggi.
Di balik performa apik itu, ada faktor lain yang tak kalah penting: stabilitas. Di Surabaya, Tavares bekerja dalam lingkungan yang rapi. Gaji lancar, manajemen profesional. Ia bebas menumpahkan seluruh energinya untuk membangun tim. Bandingkan dengan masa-masa sulitnya di Makassar. Romantisme perjuangan memang ada, tapi dalam sepak bola modern, romantisme tak bisa jadi pengganti profesionalisme.
Artikel Terkait
Persebaya Surabaya: Favorit Terselubung di Tengah Sorotan Persib dan Persija
Persib dan Persija Gaduh, Persebaya Siap Menggigit Diam-diam
Sir Jim Ratcliffe Tarik Michael Carrick di Tengah Wawancara Usai United Bungkam Arsenal
Kapten di Lapangan, Rumor di Pasar: Ricky Kambuaya dan Dua Wajah yang Berbeda