Tavares dan Persebaya: Ketika Stabilitas Klub Melahirkan Performa Gemilang

- Senin, 26 Januari 2026 | 22:30 WIB
Tavares dan Persebaya: Ketika Stabilitas Klub Melahirkan Performa Gemilang

SURABAYA Minggu malam itu, Stadion Gelora Bung Tomo bergemuruh. Persebaya baru saja menggasak PSIM Yogyakarta 3-0. Di pinggir lapangan, Bernardo Tavares berdiam sejenak. Wajahnya tenang, penuh fokus. Sang pelatih asal Portugal itu tampak benar-benar larut dalam permainan.

Pemandangan ini punya ironi tersendiri, terutama bagi yang mengikuti jejaknya di Indonesia. Coba bandingkan. Di Surabaya, pembicaraannya murni soal taktik dan intensitas. Beberapa musim lalu di PSM Makassar? Ceritanya lain. Pikirannya kerap tersita oleh urusan di luar lapangan gaji yang molor, bahkan kisah getir dimana piala dan kaos penghargaan harus ‘dilelang’ demi menutupi kebutuhan klub. Sungguh, perbedaan yang telanjang.

Kemenangan 3-0 tadi bukan cuma angka. Persebaya tampil efektif dan disiplin. Yang menarik, meski cuma menguasai bola 20 persen, mereka menciptakan peluang-peluang berbahaya. Statistik expected goals mereka mencapai 2.7. Itu angka yang cukup berbicara.

Menurut Tavares, identitas timnya justru bersinar di babak kedua.

“Saya rasa tim kami di babak kedua banyak berkembang, begitu juga para pemain yang bisa masuk ke dalam permainan,” ujarnya.

Timnya menekan dengan transisi cepat, tak memberi ruang PSIM untuk bernapas. Dari 12 tembakan, 6 tepat sasaran. Akurasi 50 persen itu bicara soal efisiensi, bukan cuma hantam kromo.

Namun yang paling mencolok adalah ketenangan mereka. Sepanjang laga, Persebaya hanya kehilangan bola dua kali. Statistik langka yang menunjukkan fokus dan disiplin tingkat tinggi.

Di balik performa apik itu, ada faktor lain yang tak kalah penting: stabilitas. Di Surabaya, Tavares bekerja dalam lingkungan yang rapi. Gaji lancar, manajemen profesional. Ia bebas menumpahkan seluruh energinya untuk membangun tim. Bandingkan dengan masa-masa sulitnya di Makassar. Romantisme perjuangan memang ada, tapi dalam sepak bola modern, romantisme tak bisa jadi pengganti profesionalisme.

Kini, ia tak perlu lagi punya beban ‘bertahan demi klub’. Ia dibayar untuk bekerja maksimal, dan itu yang dilakukannya.

“Ketika kita menang, bukan berarti semuanya baik. Ketika kita kalah, bukan berarti semuanya buruk,” tegas Tavares.

Kedewasaan perspektif semacam itu biasanya lahir dari lingkungan kerja yang sehat.

Angka-angkanya pun mendukung. 29 intersepsi, 20 sapuan bersih, 12 tekel sukses. Mereka hanya melakukan 7 pelanggaran dan mendapat 1 kartu kuning. Agresif, tapi tetap terkendali. Ditambah 5 penyelamatan kiper yang menjaga gawang tak kebobolan. Ini kemenangan yang sistematis, bukan sekadar luapan emosi sesaat.

Dan di balik sistem yang rapi itu, ada seorang pelatih yang akhirnya bisa berkonsentrasi penuh, tanpa diganggu distraksi administratif yang melelahkan.

Kisah Tavares ini sebenarnya adalah cermin bagi sepak bola Indonesia. Ia menunjukkan apa yang bisa dicapai ketika pelatih berkualitas ditempatkan dalam ekosistem yang profesional. Di Makassar dulu, ia bertahan dengan idealisme. Di Surabaya sekarang, ia berkembang berkat dukungan struktural. Intinya, ini soal kelas pengelolaan.

Jika konsistensi seperti ini dipertahankan, dan penyelesaian akhir terus diasah, Persebaya bukan cuma pesaing papan atas. Mereka sedang membangun fondasi sebagai kandidat juara yang serius.

Dan untuk pertama kalinya dalam sekian lama, Bernardo Tavares terlihat benar-benar menikmati detik-detik sebagai pelatih sepak bola. Itu hal yang sederhana, tapi berarti segalanya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler