Sementara itu, lima kekalahan Tavares di musim 2023/2024 terbagi. Tiga di Liga 1, ditambah dua kekalahan telak di Piala AFC melawan klub Vietnam dan Malaysia. Fokus tim saat itu terbelah antara ajang Asia dan domestik.
Dulu, Tavares punya alasan: banyak pemain pilar yang hengkang. Trucha, di sisi lain, lebih sering menyalahkan faktor teknis dan sedikit nasib sial di lapangan.
Mengapa Situasi Trucha Lebih Pelik?
Nah, di sinilah letak kekhawatiran banyak pengamat. Kekalahan beruntun murni di liga punya dampak psikologis yang lebih berat. Posisi di tabel stagnan atau malah merosot, tekanan suporter setiap pekan makin menjadi, dan ancaman degradasi itu nyata adanya.
Masalah yang diungkapkan Trucha koordinasi buruk dan kebobolan cepat sebenarnya adalah hal yang secara teori lebih mudah diperbaiki. Ini soal skema latihan, konsentrasi, dan komunikasi di lapangan. Bukan soal kehabisan stok pemain bintang.
Artinya, ekspektasi untuk segera bangkit justru lebih besar. Sayangnya, Trucha tidak punya "tabungan" prestasi seperti Tavares, yang pernah membawa PSM juara Liga 1. Dukungan emosional dari publik Makassar bisa saja lebih tipis.
Dengan rekor yang kini menyamai periode terkelam klub dalam tiga tahun terakhir, tekanan di pundak pelatih asal Ceko itu luar biasa besar. Tidak berlebihan jika dikatakan posisinya benar-benar di ujung tanduk. Setiap laga ke depan adalah ujian terakhir.
Artikel Terkait
Berguinho Pecah Kebuntuan, Persib Rebut Puncak Klasemen Usai Atasi PSBS
Tawaran Nyaris Gratis Pescara yang Gagalkan Kepulangan Barba ke Italia
Persebaya Hancurkan PSIM 3-0 di Kandang Sultan Agung
Todoroski Diincar, Bek Kanan PSM Segera Terisi?