Suasana di Istora Senayan, Minggu sore itu, benar-benar elektrik. Di lapangan, Alwi Farhan tampak seperti punya misi. Pemain tunggal putra berusia 20 tahun itu tak hanya bermain, tapi menghajar. Lawannya, Panitchapol Teeraratsakul dari Thailand, seolah hanya bisa menyaksikan badai yang menerpanya. Dan ketika smash terakhir mendarat, skor papan menunjukkan angka yang nyaris tak masuk akal: 21-5 dan 21-6. Indonesia akhirnya punya juara di Indonesia Master 2026.
Gelar itu, satu-satunya untuk tuan rumah, datang dari sektor yang paling dinanti. Alwi mempersembahkannya dengan cara yang sangat dominan.
Dari get pertama, ritme sudah ditentukan. Alwi langsung melesat. Serangannya cepat, lugas, dan bervariasi. Smash keras menyisir sudut-sudut lapangan, diikuti oleh permainan net yang licin. Panitchapol terlihat kewalahan. Ia kesulitan bernapas, apalagi mengembangkan pola permainannya. Pada interval pertama, Alwi sudah unggul jauh 11-4.
Dan ia tak berhenti. Tekanan justru makin menjadi. Setiap pengembalian lawan seolah sudah ditebak, lalu dibalas dengan pukulan yang lebih mematikan. Gim pertama pun ditutup dengan cepat, 21-5. Sorakan penonton, yang sebagian besar sudah berdiri, menggema di seluruh sudut Istora.
Memasuki gim kedua, banyak yang menduga Alwi mungkin akan sedikit mengendur. Ternyata tidak. Malah, ia tampil lebih cerdas. Membaca pergerakan Panitchapol, lalu mengeksploitasi kelemahannya. Pada kedudukan 7-2, poin lawan hanya datang dari kesalahan Alwi sendiri yang pengembaliannya takluk di net. Selebihnya, pertahanan sang pebulutangkis Thailand tampak bolong di mana-mana.
Mimik frustrasi di wajah Panitchapol semakin jelas. Di sisi lain, Alwi justru terlihat tenang, fokus. Sentuhan halusnya di depan net, dikombinasikan dengan serangan tajam dari belakang, benar-benar memutuskan alur permainan lawan. Interval gim kedua kembali jadi milik mutlak Alwi: 11-2.
Artikel Terkait
Alwi Farhan Hancurkan Lawan, Ukir Sejarah di Istora Senayan
Peluang Eropa Joey Pelupessy Makin Cerah, Klub Indonesia Harus Gigit Jari
Masa Depan Yuran di PSM Makassar Terancam Usai Banjir Kritik
Trucha di Ujung Tanduk, Rekor Buruk PSM Makassar Kian Miris