JAKARTA – Tren pemain keturunan yang memilih hijrah ke Super League 2025-2026 disambut baik oleh John Herdman. Bagi pelatih Timnas Indonesia itu, fenomena ini bukan sekadar angin segar, tapi sebuah langkah strategis yang langsung memperkuat pondasi skuad Garuda. Bagaimana tidak? Kehadiran mereka di liga domestik memudahkan pemantauan performa secara rutin. Di sisi lain, adaptasi pemain terhadap karakter sepak bola nasional juga bisa berjalan lebih cepat.
Ambil contoh Shayne Pattynama. Bek kiri berusia 27 tahun itu baru saja resmi berseragam Persija Jakarta. Kontraknya berlaku untuk 2,5 musim, setelah ia hengkang dari Buriram United menyusul dihapusnya kuota pemain Asia di Liga Thailand. Pattynama adalah salah satu bukti nyata tren yang sedang terjadi.
Bagi Herdman, lokasi bermain sebenarnya bukan patokan mutlak. Yang jauh lebih ia perhatikan adalah konsistensi menit bermain dan perkembangan si pemain dari pekan ke pekan. Namun begitu, punya mereka di sini jelas memberi keuntungan lain.
"Saya pikir itu penting. Punya akses ke pemain dari Eropa memang membawa standar berbeda," ujar Herdman.
Tapi dia segera menambahkan, Super League justru menawarkan konteks yang tak bisa didapat di Eropa.
"Bagi para pemain, penting banget terbiasa dengan kondisi di sini. Iklimnya sangat unik, panas dan lembap. Untuk berlatih di sini secara konsisten, itu hal yang krusial," tegasnya.
Artikel Terkait
Marmoush dan Semenyo Bawa City Permalukan Wolves di Etihad
Como Hajar Torino 6-0 dan Geser Juventus dari Posisi Kelasemen
Bernardo Tavares: Dari Bayangan Mourinho ke Mimpi Guardiola di Persebaya
Gelombang Pemain Diaspora Serbu Super League, Siapa Lagi yang Ikut Pulang?