Bernardo Tavares: Dari Bayangan Mourinho ke Mimpi Guardiola di Persebaya

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 22:30 WIB
Bernardo Tavares: Dari Bayangan Mourinho ke Mimpi Guardiola di Persebaya

PSM, saat itu, jelas masuk kategori yang "tidak".

Namun begitu, waktu terus berjalan. PSM dan Tavares akhirnya berpisah. Dan roda nasib membawanya ke Surabaya, ke Persebaya.

Di sini, situasinya berbalik 180 derajat.

Persebaya bukan cuma besar namanya. Klub ini punya daya gebuk di meja transfer, punya daya tarik, dan yang paling penting: punya nyali manajerial. Target pemain dikejar, kedalaman skuad diwujudkan, bukan sekadar jadi bahan obrolan.

Jadilah Tavares seperti berpindah peran. Dulu dia adalah Mourinho di PSM, berjuang mati-matian dengan sumber daya terbatas. Kini, dia berpeluang menjadi Guardiola-nya Persebaya, seorang pelatih yang akhirnya punya ruang untuk bernapas lega.

Ironis, ya? Tapi itulah sepak bola.

Tavares sendiri tentu terlalu profesional untuk mengatakannya secara gamblang. Dia nggak akan pernah bilang, "Nah, sekarang gue punya privilege lho!" Tapi semua kata-katanya yang dulu di Makassar, kini terasa seperti nubuat yang pelan-pelan jadi kenyataan.

Apa yang dulu ia kagumi dari Guardiola, kini ia rasakan sendiri kulitnya.

Memang, sepak bola seringkali terasa tidak adil. Tapi kadang, dia memberi kesempatan kedua pada seorang pelatih. Bukan untuk membuktikan diri lebih keras lagi, tapi untuk membuktikan bahwa idenya bisa jalan, asal alatnya memadai.

Sekarang, tinggal satu pertanyaan besar yang menggantung.

Mampukah Bernardo Tavares, dengan privilege ala Guardiola yang mulai ia nikmati di Persebaya, mewujudkan sepak bola impian yang dulu hanya bisa ia bayangkan di PSM?

Soalnya kalau gagal, alasan soal anggaran dan keterbatasan sudah tidak bisa dipakai lagi. Tapi kalau berhasil, sejarah mungkin akan mencatat satu hal: bukan Tavares yang berubah. Lingkungannyalah yang akhirnya mau berpihak.


Halaman:

Komentar