Hingga istirahat, skor 1-0 untuk keunggulan tuan rumah tak tergoyahkan.
Babak kedua dibuka dengan pergantian pemain. Daisuke Sakai masuk, menggantikan Victor Dethan. PSM langsung menekan. Sundulan Alex Tanque dan tembakan Rizky Eka Pratama menguji kiper Moch. Sendri Johansah, yang malam itu tampil sangat solid.
Namun begitu, saat mereka sedang asyik menyerang, malapetaka justru datang. Menit ke-61, sebuah momen konyol di area pertahanan sendiri. Yuran Fernandes terlihat ragu menahan umpan silang, seolah menunggu Reza Arya keluar. Wahyudi Hamisi tak menyia-nyiakan kesempatan, menekan dan merebut bola. Bola muntah ke kaki Iker Guarrotxena. Striker asal Spanyol itu, dengan tenang yang mengesankan, menuntaskannya. Gol pertamanya di Liga Super sekaligus menjadi pukulan pamungkas.
2-0. Semangat PSM seakan langsung terkuras.
Mereka masih mencoba. Beberapa bola mati dan umpan silang masih dicoba, tapi penyelesaian akhirnya payah. Tak ada lagi gol yang tercipta hingga wasit meniup peluit panjang. Kekalahan lagi. Sudah jadi cerita yang terlalu sering didengar belakangan ini.
Kekalahan ini bukan sekadar angka. Ini adalah kelanjutan dari tren mengerikan yang menenggelamkan mereka di dasar klasemen. Tekanan pada pelatih Tomas Trucha kini semakin besar, bagai gunung es yang siap runtuh. Alih-alih menjadi titik balik, putaran kedua justru dibuka dengan catatan yang semakin suram. Pertanyaan besar kini menggantung: kapan penderitaan ini akan berakhir?
Artikel Terkait
Marmoush dan Semenyo Bawa City Permalukan Wolves di Etihad
Herdman Soroti Keuntungan Strategis Pemain Diaspora di Super League
Como Hajar Torino 6-0 dan Geser Juventus dari Posisi Kelasemen
Bernardo Tavares: Dari Bayangan Mourinho ke Mimpi Guardiola di Persebaya