Gim kedua berlangsung lebih ketat di awal. Kedua pasangan saling jegal, saling menanggapi. Namun, setelah tertinggal 6-4, Raymond/Joaquin kembali menunjukkan konsistensi. Mereka berbalik unggul 6-8. Di sini perbedaannya jelas: Raymond/Joaquin bermain lebih klinis dan efisien. Sementara Sabar/Reza, sayangnya, masih terganjal kesalahan-kesalahan mandiri. Interval kedua berakhir 9-11 untuk keunggulan pasangan junior.
Selepas jeda, Raymond/Joaquin sama sekali tak melepas pedal gas. Mereka terus mendikte permainan, memaksa Sabar/Reza bertahan. Upaya comeback dari pasangan senior itu selalu berhasil dipatahkan. Sabar dan Reza tampak kehabisan akal, sulit keluar dari tekanan yang begitu rapi.
Pada akhirnya, kemenangan itu jatuh ke pangkuan Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin. Sebuah kemenangan yang cukup meyakinkan di gim penutup, 14-21. Laga ini bukan cuma soal tiket final, tapi juga pernyataan: generasi baru siap mengambil alih.
Artikel Terkait
Mundurnya Iran dari Piala Dunia 2026 Buka Peluang Diplomasi Timnas Indonesia
Timnas Indonesia Hadapi FIFA Series Tanpa Miliano Jonathans, Peluang Terbuka untuk Pengganti
Real Madrid Hajar Manchester City 3-0 di Leg Pertama 16 Besar Liga Champions
Persija Jakarta Siap Lakukan Cuci Gudang untuk Pertahankan Tren Positif