Rivalitas mereka nggak pernah netral. Persib dan Persebaya itu lebih dari sekadar dua klub; mereka dua simbol, dua sejarah, dengan basis massa yang selalu berisik. Dalam duel panas kayak gini, logika klasemen seringnya ambrol. Yang berbicara adalah mental, emosi, dan nyali buat ambil risiko.
Hodak paham betul soal ini. Ia tahu, Persebaya hampir selalu naik satu level performanya saat hadapi Persib. Entah di Surabaya atau Bandung, laga ini jarang yang berjalan biasa-biasa aja. Motivasi berlipat, duel lebih keras, intensitas terjaga sampai peluit akhir. Buat tim yang lagi kejar gelar, satu pertandingan kayak gini bisa putar arah musim. Bukan cuma soal tiga poin, tapi soal momentum yang bisa hilang.
Memang, ancaman buat Persib nggak cuma dari satu arah. Hodak juga menyoroti gerak agresif Persija Jakarta dan Malut United. Keduanya punya kesamaan: kantong tebal. Di sepak bola modern, kedalaman skuad sering sejalan dengan kekuatan finansial. Hodak sadar, bursa transfer paruh musim bisa mengacak-acak peta persaingan dalam sekejap.
“Tim dengan finansial kuat biasanya punya fleksibilitas lebih dalam memperbaiki kelemahan,” ujarnya, dengan nada realistis.
Di sisi lain, Borneo FC tetap jadi tolok ukur stabilitas. Rekor 11 kemenangan beruntun di awal musim bukanlah kebetulan. “Borneo tetap ada di sana. Mereka sangat stabil,” akui Hodak. Tapi justru karena stabil, mereka lebih gampang dipetakan. Persebaya lain cerita. Mereka cair, adaptif, dan… sulit ditebak.
Inilah posisi sulit yang kini diduduki Persib. Sebagai pemuncak, setiap lawan datang dengan motivasi ekstra: menjatuhkan sang raja. Sedikit saja lengah, jarak poin bisa menyusut. Dan yang lebih berbahaya, tekanan psikologis bisa berpindah tangan.
Hodak paham, musuh terbesar tim juara adalah inkonsistensi. Bukan kalah dari rival besar, tapi kehilangan fokus di momen-momen yang seharusnya bisa diambil poinnya.
Dan di situlah Persebaya berpotensi jadi batu sandungan paling seram. Mereka mungkin nggak di puncak, tapi punya semua bahan untuk mengacaukan rencana: sejarah rivalitas, mental tempur, perubahan taktik, dan motivasi yang meledak-ledak.
Dalam perburuan gelar, soal utamanya bukan cuma siapa yang paling kuat. Tapi, siapa yang paling siap menghadapi gangguan. Buat Persib Bandung, gangguan yang bernama Persebaya Surabaya itu terasa sangat, sangat nyata.
Artikel Terkait
Adnan/Indah Pacu Target 10 Besar Dunia Lewat Perempatfinal Indonesia Masters
Persija di Persimpangan: Jenner atau Pattynama untuk Slot Diaspora?
PSM Makassar Berburu Gervane Kastaneer, Striker Peserta Piala Dunia 2026
Vinicius dan Siulan Bernabéu: Kritik Pedas atau Pengakuan Terselubung?