Menurut penyerang berdarah Brasil-Spanyol itu, suasana latihan di bawah Conte sama sekali tidak menyenangkan. Ekspresi sang pelatih yang seringkali marah dan muram konon langsung memengaruhi psikologi skuad. Costa bilang, Conte hampir selalu terlihat kesal. Sikap itulah yang akhirnya menciptakan jarak dengan anak asuhnya, membuatnya kurang disukai di ruang ganti.
Dampaknya nyata bagi karier Costa. Ia sempat diasingkan, tidak dimainkan sama sekali di paruh awal musim berikutnya. Nasibnya berakhir dengan kepulangan ke Atletico Madrid di bursa transfer Januari.
Di sisi lain, Conte tetap bisa mengakhiri musim 2017/2018 dengan membawa Piala FA. Tapi pencapaian di liga biasa saja, cuma peringkat lima. Hasil itulah yang kemudian membuat manajemen Chelsea memutuskan untuk memberhentikannya.
Kini, Costa sedang dalam masa pencarian. Kontraknya dengan Gremio baru saja berakhir awal bulan ini di usianya yang ke-37. Kabarnya, striker garang ini membuka peluang untuk kembali bermain di Spanyol. Konon sudah ada komunikasi dengan mantan klubnya, Atletico Madrid, dan juga Real Valladolid.
Sementara Conte terus melangkah di karier kepelatihan elite Eropa. Setelah melalui petualangan di Inter Milan dan Tottenham Hotspur, pria asal Italia itu sekarang memegang kendali penuh Napoli sejak musim lalu.
Pengakuan Costa ini sekali lagi mengingatkan kita. Di dunia sepak bola profesional, gelar dan piala yang berkilau kerap menyimpan dinamika hubungan yang rumit. Keharmonisan di balik layar tak selalu mengikuti kesuksesan di atas rumput hijau.
Artikel Terkait
Sabar-Reza Bangkit dari Ketertinggalan, Lolos ke 8 Besar Indonesia Masters
Liverpool Hancurkan Marseille di Kandang Sendiri dengan Tiga Gol Tanpa Balas
Persebaya Lepas Dua Pemain Lagi Jelang Putaran Kedua
Barcelona Pastikan Tiket Play-off Usai Menangi Drama di Praha