Pandangan Hoare ini tak sendirian. Luke Taylor dari Partai Liberal Demokrat ikut menyuarakan hal serupa. Ia mendesak pemerintah Inggris menunjukkan sikap jelas terhadap kebijakan Trump yang dianggap merusak hubungan internasional dan kepentingan Eropa.
Tapi, jangan salah. Wacana boikot ini bukannya tanpa dilema. Bagi dunia olahraga, terutama para pemain dan suporter, ini keputusan yang amat berat. Inggris dan Skotlandia sudah berjuang mati-matian untuk lolos. The Three Lions, misalnya, tergabung di Grup L bersama Kroasia yang tangguh, Ghana, dan Panama. Peluang mereka tak bisa dibilang mudah.
Skotlandia malah dapat tantangan lebih berat. Mereka satu grup dengan Brasil, Maroko, dan Haiti. Bagi Skotlandia, ini momen bersejarah setelah penantian panjang untuk kembali ke panggung utama.
Sampai detik ini, belum ada keputusan resmi dari pemerintah maupun asosiasi sepak bola setempat. Namun, desakan dari para politisi itu jelas menunjukkan satu hal: Piala Dunia 2026 bukan lagi sekadar soal gol dan tendangan sudut. Ia telah berubah menjadi arena perang politik global.
Kini, semua mata tertuju pada Inggris dan Skotlandia. Akankah mereka memilih fokus pada prestasi di lapangan hijau, atau justru menjadikan sepak bola sebagai alat tekanan diplomatik? Jawabannya masih menggantung.
Artikel Terkait
Komnas Perempuan Apresiasi Respons Cepat Menpora Terkait Dugaan Pelecehan di Pelatnas Panjat Tebing
PSM Bangkit dari Ketertinggalan, Imbangi Malut United 3-3
Borneo FC Hancurkan Persebaya 5-1, Geser Persija di Papan Atas Super League
Arsenal Lolos ke Perempat Final Piala FA Usai Dihajar Ketat Mansfield 2-1