HARIAN, MAKASSAR Jumat malam nanti, PSM Makassar bakal bentrok dengan Semen Padang di pekan ketiga Super League. Tapi bagi yang jeli, laga ini bukan cuma soal tiga poin. Ada cerita lain yang terselip, tentang seorang pemain Portugal yang nyaris memakai jersey Juku Eja: Pedro Matos.
Bernardo Tavares, sang pelatih PSM kala itu, mengakui hal ini dengan jujur. Sebelum musim bergulir, ia punya target utama untuk mengokohkan lini tengahnya. Namanya Pedro Matos. Sayangnya, negosiasi berujung buntu. Sang gelandang memilih jalan lain.
“Saya cukup terkejut. Sebelumnya saya ingin merekrut Pedro Matos, tetapi dia lebih memilih Semen Padang,”
kata Tavares, Kamis lalu.
Di usianya yang ke-24 saat itu, Matos dikenal sebagai pekerja keras. Posturnya mungkin tak terlalu jangkung, cuma 175 cm, tapi karirnya di Portugal sudah dimulai sejak muda. Dia sudah mencicipi atmosfer beberapa klub di sana, membangun pengalaman bertahap.
Musim terakhirnya di tanah kelahiran dihabiskan bersama AD Sanjoanense, di Liga 3. Statistiknya cukup menarik. Delapan belas kali tampil, satu assist di fase reguler. Namun, yang bikin orang melirik adalah kontribusinya di play-off degradasi. Di momen genting itu, Matos benar-benar bersinar: dua gol dan tiga assist berhasil dicetaknya, menjadi pahlawan yang menjaga klubnya tetap bertahan.
Sebelum Sanjoanense, ia juga sempat membela SC Praiense dan Valadares Gaia FC. Di Valadares, ia cuma dapat satu kesempatan tampil, itu pun di Piala Portugal. Tapi justru di kompetisi piala itulah salah satu momen berharga terjadi. Masih muda, ia sudah dipercaya mengenakan ban kapten. Rekam jejak inilah yang rupanya menarik perhatian Semen Padang. Mereka bergerak cepat, dan rencana Tavares di Makassar pun buyar.
Artikel Terkait
PSM Makassar di Ujung Tanduk: Alarm Berbunyi Usai Putaran Pertama yang Suram
Allegri Soroti Nilai Maignan Usai Kiper Prancis itu Selamatkan Milan di Markas Como
Trucha Bertekad Ubah Nasib PSM di Paruh Kedua Super League
Jonatan Christie Bangkit dari Tekanan, Lolos ke Final India Open