LaLiga Serukan Perang Digital: Pembajakan Siaran Sepakbola Dinilai Ancaman Terstruktur

- Senin, 12 Januari 2026 | 17:55 WIB
LaLiga Serukan Perang Digital: Pembajakan Siaran Sepakbola Dinilai Ancaman Terstruktur

MADRID LaLiga, operator kompetisi sepak bola top Spanyol, kini mengerahkan upaya lebih keras untuk melawan pembajakan digital. Yang jadi sasaran utama? Media sosial dan berbagai platform teknologi yang dinilai menjadi sarana penyebaran konten bajakan secara masif. Bagi otoritas liga ini, pembajakan siaran olahraga bukan lagi sekadar pelanggaran biasa. Ini adalah kejahatan terstruktur yang secara sistematis menggerogoti industri.

Mereka menolak keras anggapan bahwa aksi pembajakan bisa dikemas sebagai bagian dari kebebasan berekspresi. Justru, praktik ini dipandang sebagai tindak kriminal terorganisir. Dampaknya langsung terasa: mengancam nyawa industri olahraga itu sendiri.

Pandangan LaLiga ini rupanya sejalan dengan pendapat Tom Leighton, CEO dan co-founder Akamai. Menurutnya, pembajakan digital jauh lebih berbahaya. Ini bukan cuma soal hak cipta yang dilanggar, tapi juga ancaman serius bagi keamanan siber global.

Presiden LaLiga, Javier Tebas, dengan tegas menyoroti tiga masalah pokok. Dia angkat bicara soal keamanan siber, teknologi penanggulangan yang sebenarnya sudah ada, serta satu hal yang sering luput dari perhatian: persaingan tidak adil.

“Pembajakan juga merupakan masalah keamanan siber (malware, penipuan, dan pencurian kredensial). Teknologinya sudah ada untuk bertindak cepat tanpa mengorbankan kinerja maupun proses hukum. Pertanyaannya, apakah Anda merancang infrastruktur untuk mencegah kejahatan atau justru menutup mata,”

ungkap Tebas melalui sebuah unggahan di X.

Dalam cuitan yang sama, dia bahkan menyebut langsung akun @elonmusk. Langkah ini jelas bukan tanpa maksud. Ini adalah sinyal kuat, sebuah simbol keseriusan LaLiga untuk mendesak platform digital global agar lebih bertanggung jawab menekan konten bajakan.

Lalu, siapa saja yang sebenarnya terancam? Jawabannya luas. Pembajakan digital ini mengancam keberlangsungan klub-klub sepak bola, memangkas ribuan lapangan kerja, dan menggerus investasi jangka panjang untuk pengembangan sepak bola usia dini serta bibit pemain muda.

Faktanya di Spanyol cukup mencengangkan. Lebih dari 35 persen konten LaLiga yang dibajak masih bisa beredar lewat infrastruktur tertentu. Ini semua terjadi padahal ribuan pemberitahuan resmi dan langkah hukum berdasarkan putusan pengadilan sudah dilayangkan ke penyedia layanan internet.

Di sisi lain, LaLiga menegaskan bahwa teknologi untuk memberantas pembajakan sebenarnya sudah tersedia. Bisa dilakukan dengan cepat, proporsional, dan tentu saja sesuai koridor hukum. Namun begitu, tantangan terbesarnya justru ada di kemauan. Kemauan dari sebagian perantara teknologi yang terlibat.

Tak sedikit perusahaan teknologi yang dinilai bersembunyi di balik narasi mulia: kebebasan internet dan kebebasan berekspresi. Sikap ini tetap dipertahankan meski sudah ada putusan pengadilan yang jelas dari berbagai negara, sebut saja Spanyol, Italia, dan Jepang.

Alhasil, terciptalah persaingan yang timpang dan tidak adil. Pihak yang patuh pada hukum harus menanggung beban biaya dan kerumitan penegakannya. Sementara itu, pihak lain bisa meraup keuntungan besar-besaran tanpa harus memikul tanggung jawab yang setara.

Bagi LaLiga, perlindungan hak kekayaan intelektual harus berlandaskan proses hukum yang semestinya, putusan pengadilan, dan tentu saja supremasi hukum. Penegakan yang cepat tetap bisa diwujudkan, misalnya melalui mekanisme audit dan peninjauan lanjutan.

Menuntut kepatuhan hukum dari para perantara teknologi ini bukanlah bentuk sensor terhadap internet. Ini lebih tepat disebut sebagai upaya kolektif untuk melawan penipuan audiovisual yang sudah terorganisir rapi.

“Jika pembajakan dibiarkan memiliki keunggulan bawaan ‘by design’, maka harga yang harus dibayar akan ditanggung oleh kreator, industri, lapangan kerja, dan pada akhirnya oleh konsumen yang taat hukum,”

tambah Javier Tebas dalam sebuah postingan di LinkedIn, menegaskan kembali betapa seriusnya ancaman ini.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar