Faktanya di Spanyol cukup mencengangkan. Lebih dari 35 persen konten LaLiga yang dibajak masih bisa beredar lewat infrastruktur tertentu. Ini semua terjadi padahal ribuan pemberitahuan resmi dan langkah hukum berdasarkan putusan pengadilan sudah dilayangkan ke penyedia layanan internet.
Di sisi lain, LaLiga menegaskan bahwa teknologi untuk memberantas pembajakan sebenarnya sudah tersedia. Bisa dilakukan dengan cepat, proporsional, dan tentu saja sesuai koridor hukum. Namun begitu, tantangan terbesarnya justru ada di kemauan. Kemauan dari sebagian perantara teknologi yang terlibat.
Tak sedikit perusahaan teknologi yang dinilai bersembunyi di balik narasi mulia: kebebasan internet dan kebebasan berekspresi. Sikap ini tetap dipertahankan meski sudah ada putusan pengadilan yang jelas dari berbagai negara, sebut saja Spanyol, Italia, dan Jepang.
Alhasil, terciptalah persaingan yang timpang dan tidak adil. Pihak yang patuh pada hukum harus menanggung beban biaya dan kerumitan penegakannya. Sementara itu, pihak lain bisa meraup keuntungan besar-besaran tanpa harus memikul tanggung jawab yang setara.
Bagi LaLiga, perlindungan hak kekayaan intelektual harus berlandaskan proses hukum yang semestinya, putusan pengadilan, dan tentu saja supremasi hukum. Penegakan yang cepat tetap bisa diwujudkan, misalnya melalui mekanisme audit dan peninjauan lanjutan.
Menuntut kepatuhan hukum dari para perantara teknologi ini bukanlah bentuk sensor terhadap internet. Ini lebih tepat disebut sebagai upaya kolektif untuk melawan penipuan audiovisual yang sudah terorganisir rapi.
“Jika pembajakan dibiarkan memiliki keunggulan bawaan ‘by design’, maka harga yang harus dibayar akan ditanggung oleh kreator, industri, lapangan kerja, dan pada akhirnya oleh konsumen yang taat hukum,”
tambah Javier Tebas dalam sebuah postingan di LinkedIn, menegaskan kembali betapa seriusnya ancaman ini.
Artikel Terkait
VAR dan Dilema Sepak Bola Modern: Akurasi atau Jiwa Permainan?
El Clasico Para Legenda Siap Meriahkan HUT ke-500 Jakarta
PSBS Biak Hancurkan Bhayangkara 4-1 di Maguwoharjo
Megawati dan Yolla Pulang Kampung, Berapa Gaji Mereka di Proliga 2026?