Selain minimnya turnamen, Janice juga menemukan perbedaan fasilitas yang signifikan antara Indonesia dan Amerika Serikat. Kualitas fasilitas latihan dan kompetisi di AS jauh lebih unggul, yang sempat membuatnya terkagum-kagum.
Perjalanan kariernya di AS dimulai dari turnamen tenis antarkampus. Menurut Janice, program latihan dan lingkungan kompetisi di sana sangat berbeda dengan yang ia temui di Indonesia. Dukungan orang tua dan pencarian informasi yang matang menjadi kunci awalnya.
"Orang tua saya yang banyak membantu, terutama dalam mencari informasi tentang liga mahasiswa dan sistem kuliah di Amerika. Saat melakukan kunjungan ke beberapa kampus, saya benar-benar terkejut dengan kualitas fasilitas dan lingkungan latihan mereka," kenang Janice.
Ia juga menyoroti tingkat persaingan yang tinggi. "Program latihan mereka sangat bagus, dan pemain yang direkrut berasal dari seluruh dunia, bukan hanya Amerika. Kompetisi di tingkat kampus ini seperti gambaran awal atau trial sebelum benar-benar terjun ke dunia tenis profesional," pungkasnya.
Kisah Janice Tjen ini menyoroti tantangan sistematis yang dihadapi atlet tenis Indonesia dan pentingnya dukungan infrastruktur untuk mencetak atlet berkelas dunia.
Artikel Terkait
Heineken Gelar Kampanye Nobar Liga Champions, Janjikan Perjalanan ke Final di Budapest
Ekspresi Hancur Lamine Yamal Soroti Kekalahan Barcelona dari Atletico Madrid
Timnas Futsal Indonesia Juara Grup B, Hadapi Vietnam di Semifinal Piala AFF 2026
Goh Liu Ying Beralih Peran: Dari Atlet Perak Olimpiade Jadi Pelatih dan Pengusaha