Dari Misionaris ke Mualaf: Kisah Gary Miller dan Al-Qur'an
Nama Dr. Gary Miller mungkin tak asing bagi banyak yang mengikuti kisah mualaf. Pria Kanada ini, seorang profesor matematika sekaligus mantan misionaris Kristen, resmi memeluk Islam pada 1978. Yang menarik, keputusannya itu justru lahir dari niat awalnya: mencari-cari kesalahan dalam kitab suci umat Islam.
Dulu, Miller dikenal sebagai ahli teori Kristen yang gigih. Pola pikirnya yang matematis dan teliti mendorongnya untuk membaca Al-Qur'an. Tujuannya waktu itu sederhana, tapi ambisius: menemukan kelemahan, baik secara historis maupun logika, untuk dijadikan senjata dalam debat melawan Muslim.
Ia membayangkan akan menemukan buku yang primitif, yang isinya hanya berkutat pada kisah pribadi Nabi Muhammad. Misalnya, tentang duka kehilangan sang istri, Khadijah, atau kematian anak-anaknya. Namun, apa yang ia temui justru mengguncang asumsinya sendiri.
Al-Qur'an ternyata jauh melampaui narasi personal. Miller terkejut. Nama-nama orang terdekat Nabi seperti Aisyah dan Fatimah bahkan tak disebut. Di sisi lain, ia menemukan satu surat lengkap yang dinamai Maryam, yang memuat penghormatan luar biasa bahkan melebihi yang ada dalam teks-teks Kristen yang ia kenal.
Kekagumannya makin menjadi. Ia menghitung. Nabi Isa disebut 25 kali, sementara nama Nabi Muhammad hanya disebut 4 kali. Baginya, ini adalah pertanda jelas bahwa kitab ini melampaui kepentingan manusia biasa. Ia mulai merasa ini bukan karya manusia.
Lalu, saat penelitiannya kian mendalam, sebuah ayat menghantam logikanya seperti pukulan telak. Surah An-Nisa ayat 82 bunyinya: "Maka apakah mereka tidak merenungkan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari Allah, tentulah mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya."
Artikel Terkait
Dari Gilgamesh ke Amazon: Kisah Abadi Manusia dan Kutukan Hutan
iShowSpeed Bicara Gaza: Bebaskan Palestina, Aku Akan Bantu
Ironi di Panggung Komedi: Ketika Tawa Berujung Laporan Polisi
Aceh Perpanjang Status Darurat Bencana untuk Ketiga Kalinya