Pasar saham AS ditutup dengan pergerakan yang beragam pada Rabu kemarin. Di satu sisi, tekanan datang dari sektor keuangan yang lesu. Namun di sisi lain, semangat justru datang dari raksasa teknologi dan AI, yang berhasil mendorong indeks Nasdaq ke wilayah hijau.
Indeks S&P 500 akhirnya melemah 0,34 persen, berada di level 6.920,93 poin. Sementara itu, Dow Jones terpangkas cukup dalam, turun hampir satu persen. Nasdaq, didorong oleh saham-saham teknologi, justru naik 0,16 persen.
Penurunan di sektor keuangan cukup terasa. Saham JPMorgan Chase anjlok 2,3 persen setelah peringkatnya diturunkan oleh analis. Tidak hanya itu, perusahaan-perusahaan investasi seperti Blackstone dan Apollo Global juga terpuruk, masing-masing jatuh lebih dari 5 persen. Ini semua bermuara pada penurunan indeks keuangan S&P 500 sebesar 1,4 persen.
Pemicunya? Pernyataan keras Presiden Trump yang berencana melarang pembelian rumah keluarga tunggal oleh korporasi. Langkah ini ditujukan untuk meredam harga properti yang melambung. Imbasnya langsung terasa: saham perusahaan akuisisi perumahan seperti American Homes 4 Rent ikut terperosok.
Namun begitu, ada juga yang diuntungkan. Zillow, platform real estat online, justru merangkak naik lebih dari 2 persen.
Di kancah pertahanan, situasinya juga suram. Northrop Grumman dan Lockheed Martin terpukul, merosot sekitar 5 persan. Trump memberi sinyal tegas: dia tak akan mengizinkan dividen atau buyback saham bagi perusahaan pertahanan sebelum mereka memperbaiki masalah produksi alutsista.
Tapi ceritanya berbeda sama sekali di lorong teknologi. Nvidia dan Microsoft masing-masing menguat sekitar 1 persen. Alphabet, induk Google, bahkan melesat lebih dari 2 persen. Rupanya, kekhawatiran bahwa saham AI sudah terlalu mahal mulai pudar. Investor kembali melirik sektor ini.
Minat yang besar terhadap AI ini bukan sekadar omong kosong. Ambil contoh Anthropic, pembuat chatbot Claude. Perusahaan itu dikabarkan sedang merancang penggalangan dana miliaran dolar. Jika berhasil, valuasinya bisa menyentuh angka fantastis: 350 miliar dolar AS. Angka itu akan membuatnya lebih bernilai daripada banyak raksasa industri lain.
Jake Dollarhide, seorang eksekutif di Longbow Asset Management, menyoroti pola ini. "Para investor memasuki tahun 2026 dengan strategi yang mirip tahun lalu: beli saham teknologi dan lupakan saja," ujarnya.
Dia menambahkan, "Rumor bahwa tren AI sudah berakhir ternyata tidak benar."
Meski begitu, tidak semua di sektor teknologi beruntung. Perusahaan chip dan penyimpanan data seperti Western Digital dan Seagate justru kehilangan momentum, terkoreksi tajam setelah reli sebelumnya. First Solar bahkan terjun bebas 10 persen menyusul penurunan peringkat dari "beli" menjadi "tahan".
Menjelang musim laporan keuangan, suasana di Wall Street masih terasa mahal. Valuasi S&P 500 berada di level 22 kali estimasi laba masih di atas rata-rata historisnya. Data ekonomi yang dirilis Rabu, seperti lowongan kerja dan penyerapan tenaga kerja swasta, datang lebih lemah dari perkiraan. Tapi data ini tampaknya belum cukup untuk mengubah ekspektasi pasar soal potensi penurunan suku bunga Fed.
Di luar angka-angka, ketegangan geopolitik juga jadi perhatian. AS dilaporkan menyita kapal tanker berbendera Rusia yang terkait dengan Venezuela, bagian dari upaya Trump mengontrol aliran minyak negara itu. Bahkan, isu pembelian Greenland oleh AS dengan segala opsi termasuk militer kembali mencuat dari Gedung Putih.
Dengan semua gejolak itu, volume perdagangan hari Rabu terbilang tinggi, mencapai 17,4 miliar saham. Pasar memang tampak sibuk, mencerna banyak informasi sekaligus dalam satu hari.
Artikel Terkait
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global
IHSG Melonjak 1,03% di Awal Pekan, Mayoritas Sektor Berada di Zona Hijau