Wall Street Bergejolak: Saham Properti Anjlok Dihantam Ancaman Trump, Teknologi Bertahan

- Kamis, 08 Januari 2026 | 06:30 WIB
Wall Street Bergejolak: Saham Properti Anjlok Dihantam Ancaman Trump, Teknologi Bertahan

Pasar saham Wall Street menutup sesi Rabu (7/1) dengan pergerakan yang beragam. Di satu sisi, tekanan datang dari sektor keuangan. Saham-saham seperti JPMorgan dan Blackstone anjlok, menarik indeks S&P 500 turun 0,34 persen ke level 6.920,93. Namun begitu, semangat justru datang dari kubu teknologi. Nvidia dan Alphabet sukses mengerek indeks Nasdaq naik tipis 0,16 persen, sementara Dow Jones justru terpuruk dengan penurunan hampir satu persen.

Guncangan besar datang dari pernyataan Presiden Donald Trump. Ia mengancam akan melarang pembelian rumah keluarga tunggal oleh perusahaan, sebuah langkah yang katanya untuk menekan harga properti. Imbasnya langsung terasa. Saham perusahaan akuisisi perumahan seperti Blackstone dan Apollo Global Management terjun bebas lebih dari 5 persen. American Homes 4 Rent juga ikut terperosok. Menariknya, di tengah kepanikan itu, Zillow justru merangkak naik lebih dari 2 persen.

“Para investor memasuki tahun 2026 dengan strategi yang mirip dengan tahun lalu, beli saham teknologi dan lupakan saja. Rumor bahwa perdagangan AI sudah berakhir ternyata tidak benar,”

Komentar Jake Dollarhide, kepala eksekutif Longbow Asset Management, seolah mengonfirmasi suasana pasar. Sentimen terhadap AI kembali menguat, mendorong kenaikan untuk raksasa seperti Microsoft dan Alphabet. Bahkan, kabar rencana penggalangan dana miliaran dolar oleh Anthropic yang bisa menempatkan nilainya di angka fantastis USD 350 miliar menunjukkan betapa panasnya minat investor pada sektor ini.

Namun, tidak semua cerita berakhir manis. Saham JPMorgan terpangkas 2,3 persen setelah peringkatnya diturunkan oleh Wolfe Research. Di sektor pertahanan, Northrop Grumman dan Lockheed Martin juga babak belur, imbas dari ancaman Trump yang akan membatasi dividen dan buyback saham bagi perusahaan yang bermasalah dengan produksi alat militer.

Perusahaan chip dan penyimpanan data, yang sebelumnya meroket, kini kehilangan momentum. Western Digital dan Seagate Technology tercatat merosot tajam. Begitu pula dengan First Solar, yang anjlok 10 persen setelah peringkatnya dipotong oleh analis Jefferies.

Di balik semua gejolak saham ini, ada kekhawatiran mendasar soal valuasi. Menjelang musim laporan keuangan, harga saham di Wall Street masih terbilang mahal. Indeks S&P 500 saat ini diperdagangkan sekitar 22 kali estimasi laba masih di atas rata-rata historisnya.

Data ekonomi yang dirilis Rabu memperlihatkan gambaran campur aduk. Lowongan kerja turun lebih dalam dari perkiraan, sementara penambahan pekerja di sektor swasta juga melambat. Data-data ini, meski kembali normal pasca penutupan pemerintah, tampaknya belum cukup untuk menggeser ekspektasi pasar soal potensi pemotongan suku bunga The Fed. Semua mata kini tertuju pada laporan penggajian pemerintah yang akan dirilis Jumat.

Lalu, ada lagi faktor geopolitik yang mengganggu. AS dikabarkan menyita kapal tanker berbendera Rusia yang terkait dengan Venezuela, bagian dari upaya agresif Trump mengontrol aliran minyak negara tersebut. Belum lagi isu lain: Gedung Putih mengaku Trump sedang membahas opsi untuk memperoleh Greenland, bahkan dengan kemungkinan melibatkan militer AS. Situasi yang cukup untuk membuat pasar terus waspada.

Dengan semua drama itu, volume perdagangan hari Rabu terpantau tinggi, mencapai 17,4 miliar saham. Angka itu jelas di atas rata-rata 20 hari sebelumnya. Pasar memang tampak sibuk, penuh dengan tarik-ulur antara harapan dan kekhawatiran.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar