Garda Revolusi Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain, sebagai balasan atas serangan AS di wilayah Iran. Dalam pernyataannya, IRGC memperingatkan bahwa agresi lebih lanjut akan dibalas dengan 'tanggapan yang menghancurkan'.
Serangan ini terjadi di tengah tuduhan saling melanggar gencatan senjata yang rapuh antara Iran dan AS. Kedua pihak saling menuding, memperkeruh negosiasi yang bertujuan mengakhiri perang di Timur Tengah.
"Garda Revolusi menghancurkan delapan fasilitas militer AS yang penting di pangkalan Ali al-Salem di Kuwait dan di pangkalan angkatan laut Armada Kelima di Pelabuhan Salman di Bahrain," demikian pernyataan resmi IRGC.
"Setiap agresi musuh, apa pun dalihnya, bahkan terhadap target yang tidak signifikan... akan dibalas dengan menghancurkan," imbuh pernyataan tersebut.
Sebelumnya, pada pertengahan Juni, nota kesepahaman telah dicapai di bawah mediasi Pakistan. Kesepakatan itu bertujuan mengakhiri perang secara permanen. Teks yang ditandatangani kedua negara menyatakan bahwa mereka dan sekutu masing-masing "tidak akan memulai perang atau operasi militer apa pun terhadap satu sama lain dan akan menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan".
Namun, pada Sabtu, militer AS membombardir Iran untuk hari kedua berturut-turut. Washington menyebut serangan itu sebagai pembalasan atas serangan Iran terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz yang vital.
Dalam nota kesepahaman, Iran menyetujui "pelarian aman kapal komersial tanpa biaya, hanya selama 60 hari, dari Teluk Persia ke Laut Oman, dan sebaliknya" di selat tersebut. Garda Nasional Iran mengatakan langkah-langkah telah diambil untuk mengendalikan lalu lintas melalui selat itu, dan kapal yang melanggar akan ditindak lebih tegas.
IRGC telah memperingatkan pada hari Kamis agar tidak ada yang melewati selat tersebut tanpa izin mereka. Hal ini terjadi setelah Oman, yang berbagi pantai seberang dengan Iran, mengumumkan rute alternatif. Saat ini, satu-satunya jalur yang diizinkan Iran adalah koridor yang membentang di sepanjang pantainya.
Artikel Terkait
Wamendagri Tinjau PLBN Motaain, Dorong Perbatasan Jadi Pusat Ekonomi
Sultan Baktiar Najamudin Resmi Pimpin TP Sriwijaya Periode 2026-2031
Prabowo Ingin Bertemu Rutin dengan Rektor dan Peneliti: Saya Butuh Orang Pinter
Kemenag Uji Kapasitas 83 Bakal Calon Anggota Majelis Masyayikh