Pelataran Candi Borobudur Berubah Jadi Pusat Pelayanan Kesehatan Gratis Jelang Waisak, Target Layani 8.000 Warga

- Sabtu, 23 Mei 2026 | 16:45 WIB
Pelataran Candi Borobudur Berubah Jadi Pusat Pelayanan Kesehatan Gratis Jelang Waisak, Target Layani 8.000 Warga

Pelataran Taman Lumbini di Kompleks Candi Borobudur, Jawa Tengah, berubah menjadi pusat pelayanan kesehatan gratis yang dipadati ribuan warga, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini merupakan rangkaian menjelang puncak peringatan Waisak 2570 BE yang tidak hanya menyediakan layanan medis, tetapi juga dimaknai sebagai perwujudan nyata praktik Dharma dan cinta kasih kepada sesama.

Bakti sosial pengobatan gratis yang digelar sejak pagi itu melibatkan ratusan tenaga medis dan relawan. Mereka melayani warga yang datang dari berbagai wilayah di Magelang dan sekitarnya. Layanan yang tersedia meliputi poli umum, pemeriksaan gigi, bedah minor, hingga pemeriksaan mata yang disertai pembagian kacamata gratis. Panitia menargetkan tujuh hingga delapan ribu warga dapat terlayani dalam kegiatan yang berlangsung hingga 24 Mei 2026 ini.

Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), Hartarti Murdaya, menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung kegiatan ini secara berkelanjutan.

"Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, TNI, Polri, serta seluruh mitra yang sejak tahun 1996 hingga sekarang terus memberikan dukungan kepada WALUBI dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan dan kemanusiaan bagi masyarakat luas secara terus menerus," ucap Hartarti dalam sambutannya pada seremoni pembukaan acara.

Ia juga memberikan penghargaan khusus kepada para tenaga kesehatan dan relawan dari berbagai latar belakang agama.

"Kehadiran saudara-saudara sekalian memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap sesama dapat menyatukan banyak pihak dalam satu tujuan yang sama, yaitu membantu masyarakat yang membutuhkan amal bakti demi Karma baik masing-masing," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Panitia Waisak Nasional 2026, Karuna Murdaya, menjelaskan bahwa bakti sosial yang telah rutin berjalan selama hampir 30 tahun ini merupakan bagian tak terpisahkan dari momentum refleksi spiritual umat Buddha sebelum memasuki acara puncak Waisak.

"Waisak itu ada momentum yang bisa menjadi refleksi untuk moralitas dan kemauan kita sebagai umat Buddha. Salah satu ajarannya adalah untuk kepedulian sosial dan cinta kasih kepada semua orang manusia. Oleh karena itu, baksos ini adalah salah satu praktik Dharma sebelum acara puncak Waisak," ucap Karuna.

Di antara berbagai layanan yang tersedia, pengobatan umum, gigi, dan pemeriksaan mata menjadi yang paling diminati. Salah seorang penerima manfaat, Isti, mengaku sangat terbantu dengan adanya pemberian kacamata gratis. Wanita berusia 56 tahun itu sebelumnya sering mengalami kesulitan saat membaca.

"Tadi dicarikan yang pas, yang ukuran berapa, disuruh memilih yang paling pas yang enggak pusing, yang nyaman. Sebelumnya kalau buat baca itu kabur-kabur, harus disipitkan baru kelihatan. InsyaAllah nanti di rumah bisa baca Alquran dengan jelas," kata Isti.

Tahun ini, bakti sosial menghadirkan inovasi baru berupa layanan terapi energi Qi Gong serta skrining Tuberkulosis (TBC) menggunakan perangkat rontgen mobile. Langkah ini diharapkan dapat membantu menekan angka kasus TBC di Indonesia. Melalui kolaborasi lintas agama dan profesi ini, semangat kebersamaan dan kemanusiaan terus dipupuk, selaras dengan tema Waisak tahun ini, yakni Dharma sebagai sumber moral dan kebijaksanaan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar