Penelitian Ungkap Kebiasaan Akronim di Indonesia Sudah Ada Sejak Era 1960-an, Dipopulerkan Sukarno

- Sabtu, 23 Mei 2026 | 16:35 WIB
Penelitian Ungkap Kebiasaan Akronim di Indonesia Sudah Ada Sejak Era 1960-an, Dipopulerkan Sukarno

Kebiasaan menyingkat kata atau membuat akronim telah menjadi bagian tak terpisahkan dari percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia, mulai dari istilah seperti japri (jalur pribadi) hingga modus (modal dusta). Namun, pertanyaan mendasar yang kerap muncul adalah sejak kapan tradisi linguistik ini mulai mengakar dan berkembang di Nusantara.

Fenomena singkat-menyingkat kata terus mengalami evolusi hingga saat ini. Akronim-akronim baru seperti mager (malas gerak), bucin (budak cinta), hingga batagor (bakso tahu goreng) secara organik lahir dan mewarnai dinamika komunikasi masyarakat. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kreativitas berbahasa tidak pernah berhenti bergerak.

Soenjono Dardjowidjojo, dalam makalahnya yang berjudul Acronymic Patterns in Indonesian yang terbit pada 1979, pernah melakukan penelusuran mendalam terhadap fenomena ini. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa kebiasaan masyarakat Indonesia dalam menyingkat kata atau menciptakan akronim sejatinya sudah ada sejak zaman dahulu. Meskipun demikian, praktik ini baru benar-benar meledak popularitasnya ketika memasuki dekade 1960-an.

Menariknya, materi mengenai singkatan dan akronim bahkan menjadi kurikulum wajib di akademi militer. Para calon prajurit diharuskan mengikuti kursus khusus akronim sebagai bagian dari pendidikan dasar mereka. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kemampuan berkreasi dengan kata dalam konteks kedisiplinan dan komunikasi yang efektif.

Salah satu tokoh yang paling berperan dalam mempopulerkan kebiasaan ini adalah Presiden pertama Indonesia, Sukarno. Ia kerap menggunakan akronim dalam pidato-pidatonya yang membakar semangat nasionalisme. Contoh paling ikonik adalah istilah berdikari, yang merupakan kependekan dari berdiri di kaki sendiri. Frasa ini menjadi semacam manifesto kemandirian bangsa yang terus digaungkan.

Popularitas akronim semakin melonjak tajam setelah peristiwa kudeta gagal pada 1965. Pada masa itu, berbagai singkatan dan akronim baru bermunculan dengan cepat, menandai babak baru dalam sejarah linguistik Indonesia. Sejak saat itu, tradisi menciptakan dan menggunakan akronim terus berlangsung hingga kini, menjadi cerminan dinamisnya budaya tutur masyarakat.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar