Di sudut Pancoran, Jakarta Selatan, Sumiati tersenyum sambil menyiapkan jamu dagangannya. Di usianya yang ke-65, ada secarik kebahagiaan baru yang ia rasakan belakangan ini: pelanggan dari kalangan anak muda ternyata makin banyak. Mereka yang dulu mungkin enggan, sekarang justru jadi pembeli setia.
“Jamu itu perlu, soalnya kita kan orang Indonesia kan, jamu itu penting, ini kan rempah-rempahan asli,” ujar Sumiati, ditemui pada suatu Sabtu di akhir November.
Menurutnya, rahasia kenikmatan jamunya sederhana: semuanya dibuat manual dengan tangan. Tak ada blender atau mesin. “Masaknya bener nggak ecek-ecek. Bukan (pakai) blender, saya marut (rempah-rempah). Makanya kalau ada pesanan (membuatnya) lama, (karena) bukan diblender,” jelasnya.
Dia pun dengan bangga membeberkan khasiat dari setiap racikannya. “Yang beras kencur kan hilangin pegal-pegal, yang kunir itu buat lambung, buat segar badan. Kalau lagi haid kurang lancar, jadi lancar gitu,” imbuhnya.
Artikel Terkait
Imipas Longgarkan Standar Risiko Narapidana untuk Atasi Kepadatan Lapas
Pelatnas Kirim Atlet Lebih Awal untuk Aklimatisasi Jelang All England 2026
Bus Transjakarta Tabrak Pengendara Motor di Gunung Sahari, Korban Luka Parah
Normalisasi Sungai Cirarab Ditargetkan Rampung Akhir Maret 2026