Di sudut Pancoran, Jakarta Selatan, Sumiati tersenyum sambil menyiapkan jamu dagangannya. Di usianya yang ke-65, ada secarik kebahagiaan baru yang ia rasakan belakangan ini: pelanggan dari kalangan anak muda ternyata makin banyak. Mereka yang dulu mungkin enggan, sekarang justru jadi pembeli setia.
“Jamu itu perlu, soalnya kita kan orang Indonesia kan, jamu itu penting, ini kan rempah-rempahan asli,” ujar Sumiati, ditemui pada suatu Sabtu di akhir November.
Menurutnya, rahasia kenikmatan jamunya sederhana: semuanya dibuat manual dengan tangan. Tak ada blender atau mesin. “Masaknya bener nggak ecek-ecek. Bukan (pakai) blender, saya marut (rempah-rempah). Makanya kalau ada pesanan (membuatnya) lama, (karena) bukan diblender,” jelasnya.
Dia pun dengan bangga membeberkan khasiat dari setiap racikannya. “Yang beras kencur kan hilangin pegal-pegal, yang kunir itu buat lambung, buat segar badan. Kalau lagi haid kurang lancar, jadi lancar gitu,” imbuhnya.
Sudah sejak 1995 Sumiati menggeluti profesi ini. Namun begitu, ia tak menampik bahwa jamu tradisional sempat terancam tergerus zaman. Salah satu penyebabnya, ya itu, stigma bahwa jamu itu pasti pahit.
“Kunir asem, ini temulawak masih utuh soalnya biasanya ada yang minum, ini kosong, kunyit asam, kunyit tawar, temulawak, beras kencur, pahitan, sirih, rebusan kulit manggis sama daun sirsak. Komplit,” sebutnya sambil menunjukkan aneka jenis jamu yang dijajakan.
Harganya pun tetap bersahabat. Untuk satu gelas, cukup merogoh kocek Rp 5 ribu. Sementara versi botolnya dibanderol sepuluh ribu rupiah.
Artikel Terkait
Truk Bermuatan Tepung Terigu Alami Kecelakaan Tunggal di Tol Layang Tomang, Arus Lalu Lintas Lancar
Truk Terguling di Tol Dalam Kota Akibat Kelebihan Muatan, Ratusan Kardus Tepung Berserakan
Presiden Prabowo Buka Munas HIPMI XVIII, Ajak Pengusaha Muda Perkuat Nasionalisme dan Kuasai Pasar Domestik
KPK Periksa Bupati Muara Enim Nonaktif Edison sebagai Tersangka Suap Pengaturan Temuan BPK