Dua Tentara Korea Utara di Ukraina Terjebak, Desak Suaka ke Seoul Hadapi Kebuntuan Diplomatik

- Sabtu, 21 Februari 2026 | 09:10 WIB
Dua Tentara Korea Utara di Ukraina Terjebak, Desak Suaka ke Seoul Hadapi Kebuntuan Diplomatik

MURIANETWORK.COM - Lebih dari setahun setelah ditangkap pasukan Ukraina di wilayah Kursk, Rusia, nasib dua tentara Korea Utara masih menggantung. Keduanya, yang menyatakan keinginan untuk direlokasi ke Korea Selatan, kini menghadapi ketidakpastian hukum dan diplomatik yang kompleks. Aktivis hak asasi manusia mengkritik respons pemerintah Korea Selatan yang dinilai lamban, sementara ancaman hukuman berat menanti jika mereka dipulangkan ke Pyongyang.

Permohonan Suara di Tengah Ancaman

Dalam wawancara dengan media Korea Selatan, salah satu tentara tersebut menyuarakan ketakutannya dengan gamblang. Ia menyadari betapa berbahanyanya kembali ke tanah airnya.

"Saya tidak akan selamat jika kembali. Orang-orang lain yang tertangkap, meledakkan diri. Saya gagal," tuturnya.

Permohonan mereka untuk suaka bukan tanpa alasan. Doktrin militer Korea Utara dikenal keras melarang penyerahan diri, sebuah kenyataan pahit yang membuat status mereka sebagai tawanan perang justru menjadi beban.

Sorotan Internasional dan Protokol Kemanusiaan

Kasus ini telah menarik perhatian badan dunia. Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia di Korea Utara sebelumnya telah menegaskan bahwa Ukraina harus mematuhi protokol internasional dan tidak memulangkan individu ke tempat di mana mereka berisiko mengalami penyiksaan. Tekanan dari komunitas global turut mewarnai dinamika yang sudah rumit ini.

Harapan sekaligus kepasrahan terdengar dari ucapan tentara lainnya. "Saya akan sangat bersyukur jika mereka menerima saya. Jika tidak, tidak ada yang bisa saya lakukan," ujarnya.

Dilema Pengkhianatan dan Hukuman Lintas Generasi

Para pengamat dan pembelot memahami betul risiko yang dihadapi kedua pria ini. Kim Eujin, seorang pembelot yang kini menjadi aktivis, menjelaskan doktrin keras yang mereka langgar.

"Rezim memerintahkan tentaranya untuk bunuh diri jika mereka akan ditangkap di Ukraina," tegas Kim.

"Kedua pria ini tidak mengikuti perintah itu, dan mereka tidak mati meskipun mungkin mereka mencoba," lanjutnya. "Kita tidak tahu bagaimana rezim akan merespons tentara yang tidak menaati perintah bunuh diri daripada ditangkap, karena ini belum pernah terjadi sebelumnya. Namun saya menduga mereka akan dianggap sebagai pengkhianat. Dan bukan hanya mereka keluarga mereka juga akan dihukum."

Kekhawatiran akan pembalasan terhadap keluarga bukanlah hal yang mengada-ada. Doktrin "hukuman tiga generasi" yang berlaku di Korea Utara menjadi momok menakutkan. Peter Oh dari Free Korean Association memberikan konteks historis yang suram.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar