2.300 Umat Padati Misa Kenaikan Yesus di Katedral Jakarta, Tersebar hingga Pelataran

- Kamis, 14 Mei 2026 | 11:55 WIB
2.300 Umat Padati Misa Kenaikan Yesus di Katedral Jakarta, Tersebar hingga Pelataran

Sebanyak 2.300 umat Katolik memadati Gereja Katedral Jakarta pada perayaan Misa Kenaikan Yesus Kristus, Kamis (14/5/2026), di sesi pertama yang berlangsung sejak pagi hari. Ribuan jemaat itu tidak hanya memenuhi bangunan utama gereja, tetapi juga tersebar di area luar hingga pelataran.

Pastor Rekan Gereja Katedral Jakarta, Romo Yohanes Deodatus, merinci bahwa dari total tersebut, sekitar 800 orang berada di dalam gedung gereja. Sementara itu, lebih dari 1.500 umat lainnya mengikuti misa dari luar ruangan utama. “Total umat yang hadir itu kalau di dalam gereja itu 800. Lalu ditambah di bagian luar itu sekitar ada 1.500 umat yang hadir setiap kali Misa,” katanya kepada wartawan di lokasi.

Berbeda dengan perayaan Natal atau Paskah, pihak gereja tidak memasang tenda khusus pada misa kali ini. Romo Yohanes menjelaskan bahwa keputusan itu diambil karena jadwal misa dibagi menjadi empat sesi, sehingga penumpukan umat dapat diantisipasi. “Ada empat kali Misa di Gereja Katedral Jakarta jam 08.30 pagi ini yang baru saja selesai, nanti jam 11.00, 16.30, dan jam 19.00 malam. Tidak ada kesulitan dan tidak perlu menambah kursi untuk umat karena terbagi di empat kali Misa,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Romo Yohanes menyampaikan tiga makna penting dari peristiwa Kenaikan Yesus. Salah satu yang ditekankan adalah pengutusan Roh Kudus sebagai bimbingan bagi hati nurani manusia. “Dengan Yesus naik ke surga, artinya Yesus itu sebetulnya mengutus Roh Kudus yang tinggal di hati manusia. Nah, Roh Kudus inilah yang menjadi kompas, yang membimbing hati manusia,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketika manusia kehilangan kepekaan terhadap keadilan dan kemanusiaan, hal itu menandakan bahwa mereka tidak lagi mendengarkan bimbingan Roh Kudus. Fenomena seperti tindakan menyakiti sesama hingga peperangan di berbagai belahan dunia, menurutnya, menjadi contoh nyata dari kondisi tersebut. “Maka kalau manusia sudah dikatakan kehilangan hati nurani, ya, pada keadilan, pada kemanusiaan, itu artinya tidak mendengarkan dorongan Roh Kudus, tapi mendengarkan suara roh jahat,” tegasnya.

Tak hanya soal kemanusiaan, Romo Yohanes juga menyoroti pentingnya menjaga lingkungan hidup. Pesan itu, kata dia, sejalan dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta tentang keutuhan alam ciptaan. Umat Katolik diajak untuk tidak hanya menyayangi sesama manusia, tetapi juga seluruh makhluk hidup dan alam semesta. “Bagaimana Allah datang ke dunia itu juga menebus seluruh, ya, makhluk, tidak hanya manusia saja. Maka dikatakan perintah Yesus itu pesan yang terakhir Dia katakan, ‘wartakanlah ya, ke ujung dunia kepada segala makhluk’. Jadi nggak hanya manusia, tapi seluruh makhluk itu layak untuk kita jaga, kita cintai,” pungkasnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan suasana khidmat menyelimuti jalannya ibadah. Lagu-lagu pujian dan doa bersama mengiringi perayaan misa yang dipimpin para imam Katedral Jakarta. Umat yang tidak mendapatkan tempat di ruang utama mengikuti misa dari area tenda dan Gedung Graha Pemuda, dengan bantuan layar monitor yang dipasang untuk memudahkan jalannya ibadah.

Di sisi lain, pengamanan tampak diperketat. Petugas keamanan berjaga di sejumlah titik pintu masuk gereja. Sejumlah personel dari kepolisian, TNI, serta petugas internal gereja terlihat bersiaga di area sekitar katedral untuk memastikan kelancaran dan ketertiban selama perayaan berlangsung.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar