1.500 Kapal dan 20.000 Awak Terjebak di Selat Hormuz Akibat Blokade Iran

- Jumat, 08 Mei 2026 | 11:45 WIB
1.500 Kapal dan 20.000 Awak Terjebak di Selat Hormuz Akibat Blokade Iran

Sekitar 1.500 kapal beserta seluruh awaknya saat ini terperangkap di perairan Teluk akibat blokade yang diberlakukan Iran di Selat Hormuz. Kondisi tersebut diungkapkan langsung oleh Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO), Arsenio Dominguez, dalam sebuah konvensi maritim di Panama, Kamis (7/5) waktu setempat.

Konflik di Timur Tengah kian memanas sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Iran yang menyebar ke berbagai wilayah, termasuk penerapan blokade pengiriman di Selat Hormuz sebuah jalur perdagangan global yang sangat vital bagi rantai pasok dunia.

“Saat ini, kita memiliki sekitar 20.000 awak kapal dan sekitar 1.500 kapal yang terjebak,” ujar Dominguez dalam sambutannya di hadapan para peserta Konvensi Maritim Amerika, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita AFP pada Jumat (8/5/2026).

Menurut Dominguez, kapal-kapal yang terdampak blokade tersebut mengangkut lebih dari 80 persen total produk yang dikonsumsi di seluruh dunia. Ia menekankan bahwa situasi ini tidak hanya mengancam keselamatan para pelaut, tetapi juga berpotensi memicu gangguan besar pada perekonomian global.

“Para awak kapal yang terdampar adalah orang-orang yang tidak bersalah. Mereka menjalankan tugasnya setiap hari demi kepentingan negara lain, tetapi kini terjebak oleh situasi geopolitik yang berada di luar kendali mereka,” kata Dominguez kepada para eksekutif industri dan perwakilan IMO yang hadir.

Dalam kesempatan terpisah, Dominguez juga mengungkapkan fakta yang lebih memprihatinkan. “Sepuluh pelaut telah kehilangan nyawa mereka dalam lebih dari 30 serangan terhadap kapal,” katanya kepada wartawan.

Menghadapi eskalasi ini, Kepala IMO mendesak agar pengiriman kapal ke kawasan Teluk dihentikan sementara waktu. Langkah tersebut dinilai perlu untuk mencegah bertambahnya korban jiwa di kalangan pelaut serta menghindari kerugian ekonomi yang lebih luas akibat konflik yang terus berlangsung.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar