Pemprov DKI Tangani Keluhan Satpol PP soal Kekurangan Personel dan 35 Anggota Meninggal dalam Setahun

- Minggu, 26 April 2026 | 06:50 WIB
Pemprov DKI Tangani Keluhan Satpol PP soal Kekurangan Personel dan 35 Anggota Meninggal dalam Setahun

Pemprov DKI Jakarta akhirnya bergerak. Mereka menanggapi harapan Satpol PP yang sejak lama minta tambahan personel ribuan orang katanya. Alasannya? Beban kerja. Bukan main-main tinggi banget.

Ceritanya begini. Minggu lalu, tepatnya Kamis (23/4), Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Satriadi, buka suara di rapat bersama Komisi A DPRD Jakarta. Gedung DPRD Jakarta Pusat jadi saksi. Di situ dia ngeluh, tapi bukan soal gaji atau fasilitas mewah. Ini soal nyawa.

“Selama saya menjabat, kurang dari setahun, 35 personel meninggal dunia,” ujarnya.

Angka itu, menurut dia, mirip dengan tahun sebelumnya yang mencapai 42 orang. Bukan karena dia sial atau apa. Tapi karena kondisinya memang gila.

Satriadi bilang, ada anggotanya yang kerja sampai 36 jam nonstop. Bukan 24 jam, 36 jam. Coba bayangkan. Jumlah personel minim banget cuma 7 sampai 10 orang per kelurahan. Itu sebabnya warga jarang lihat Satpol PP di lapangan. Bukan malas, tapi kewalahan.

“Di setiap kelurahan itu cuma 7-10 orang. Kenapa kita lakukan 36 jam? Karena beban kerja nggak sebanding,” lanjutnya.

Di sisi lain, ada sedikit kabar baik. Satriadi bersyukur, sekarang anggota sudah dapat jatah makan dan minum saat piket. Dulu mungkin belum. Katanya, anggota pada seneng banget. Bahkan cuma dengan makan minum aja mereka udah luar biasa senangnya.

“Terima kasih buat Komisi A yang sudah dukung makan minum piket. Alhamdulillah, mereka senang banget,” ucapnya.

Tapi, ya itu tadi. Masalah klasik belum beres. Tempat istirahat? Nihil. Padahal mereka jaga 24 jam di kantor kelurahan. Nggak ada kasur, nggak ada ruang tidur. Sekarang masih numpang di musala. Kadang di lorong. Kadang di mana gitu.

“Gimana mereka bisa kerja baik besoknya kalau istirahat aja nggak layak? Pasti tensinya tinggi semua,” kata Satriadi.

Menurut sejumlah saksi di rapat, nadanya waktu itu campuran antara lelah dan frustrasi. Bukan marah, tapi lebih ke pasrah yang butuh didengar. Dan sekarang, Pemprov DKI punya pekerjaan rumah: menambah personel, menyediakan tempat istirahat, atau dua-duanya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar