Badan Keamanan Maritim Inggris, atau yang biasa disingkat UKMTO, baru saja melaporkan sebuah insiden yang cukup serius. Sebuah kapal tanker minyak dikabarkan telah dibajak di lepas pantai Somalia. Kapal itu sekarang berada di bawah kendali pihak yang tidak berwenang.
Kejadiannya, menurut laporan AFP pada Sabtu (25/4/2026), terjadi beberapa hari sebelumnya. Tepatnya pada Selasa (21/4), kapal tanker itu disita di titik yang berada di timur laut kota Mareeyo, Somalia.
Dalam pernyataan resminya, UKMTO menjelaskan situasinya secara gamblang:
"Otoritas militer melaporkan adanya pihak tidak berwenang yang mengambil alih kapal tanker dan mengarahkan kapal tersebut sejauh 77 mil laut ke selatan di dalam perairan teritorial Somalia."
Nah, yang bikin situasi ini makin rumit, insiden ini terjadi di tengah meningkatnya risiko pelayaran di Laut Merah. Jalur ini sekarang jadi makin krusial, apalagi dengan kendali ketat Iran atas Selat Hormuz yang letaknya di sisi lain Semenanjung Arab. Jadi, bayangkan saja, tekanan di satu titik bisa memicu masalah di titik lainnya.
Sampai berita ini diturunkan, pihak berwenang Somalia belum memberikan tanggapan apa pun. Mereka bungkam saat AFP coba mengonfirmasi soal pembajakan ini.
Ini bukan satu-satunya kejadian, lho. Sebelumnya, pada Kamis (23/4), UKMTO juga mencatat sebuah kapal penangkap ikan berbendera Somalia dibajak oleh 11 orang bersenjata. Di hari yang sama, ada lagi laporan tentang sebuah kapal tanker produk minyak yang dinaiki kelompok bersenjata dalam insiden yang terpisah. Dua kejadian dalam waktu berdekatan.
"Secara keseluruhan, peristiwa ini menunjukkan adanya ancaman pembajakan yang nyata," begitu bunyi pernyataan UKMTO. Nada peringatannya jelas, tidak main-main.
Kalau kita lihat latar belakangnya, Somalia memang negara yang tidak stabil. Terletak di kawasan Tanduk Afrika, pemerintah pusatnya harus berhadapan dengan federasi negara bagian semi-otonom yang seringkali pecah kongsi. Belum lagi serangan dari kelompok militan Al-Shabaab yang punya afiliasi dengan Al-Qaeda masih sering terjadi. Ditambah lagi, ada masalah dengan Somaliland, wilayah yang memisahkan diri dan mengklaim kemerdekaan meski baru diakui oleh Israel, Somalia tetap menolak status separatis itu.
Dulu, di masa lalu, Somalia terkenal sebagai sarang bajak laut. Puncaknya terjadi pada 2011, saat serangan bajak laut merajalela. Tapi ancaman itu sempat mereda setelah Uni Eropa, India, dan beberapa negara lain mengirimkan misi angkatan laut untuk berpatroli di kawasan tersebut.
Di sisi lain Teluk Aden, ada Yaman. Di sana, pemberontak Houthi yang didukung Iran juga punya catatan panjang menargetkan kapal-kapal yang melintas. Jadi, situasi keamanan di perairan sekitar memang sedang panas-panasnya.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Beri Diskon PBB 7,5 Persen bagi Wajib Pajak yang Lunas Juni-Juli 2026
BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,5 Persen demi Tarik Investasi Asing di Tengah Tekanan Global
Timnas Indonesia Naik Empat Peringkat FIFA Usai Sapu Bersih Laga Uji Coba Kontra Oman dan Mozambik
KPK Akui Keterbatasan SDM dan Wilayah, Buka Kerja Sama dengan Kortastipidkor Polri